Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Gerakan Literasi Sekolah dan Transformasi Out Put Menjawab Kecakapan Abad 21

Gerakan Literasi Sekolah dan Transformasi Out Put Menjawab Kecakapan Abad 21

(343 Views) January 26, 2019 1:29 pm | Published by | No comment

Oleh : Yohanes Eusebius Laba, S.Pd.,Gr

Guru Pada SMP Negeri 3 Sano Nggoang-Manggarai Barat

Tulisan ini ditulis setelah mengikuti Bimtek Peningkatan Kompetensi Literasi Bagi Guru Pendidikan Dasar, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Subdirektorat Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi Guru Pendidikan Dasar, di Palembang, beberapa waktu yang lalu. Sebagai guru yang mengajar di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), mempunyai tanggung jawab moril terhadap pembangunan generasi emas bangsa. Dengan segala keterbatasan, kreativitas tidak lalu mati, namun memacu untuk terus kreatif dan semangat menjalankan amanah yang istimewah yakni, memanusiakan manusia. Profesi guru merupakan profesi yang mendapatkan tempat terhormat, walau adigum “pahlawan tanpa tanda jasa” berkumandang tak pernah putus.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Gerakan literasi sekolah di Indonesia telah digulirkan mulai Maret 2016 oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan melakukan sosialisasi dan koordinasi ke Dinas Pendidikan Provinsi dan/atau Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Dan gerakan literasi sekolah ini telah mendapatkan respon yang luar biasa dari beberapa daerah. Asosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) Cabang Flores Timur, telah menggiatkan gerakan literasi sebagai jembatan kemajuan bangsa (www.cendananews). Ini merupakan langkah yang patut diapresiasi, dan menjadi motivasi untuk giat menggerakan litarasi terkhusus di lembaga pendidikan.

Salah satu contoh pembiasaan yang baik untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang  literat adalah membiasakan membaca 15 menit membaca (guru membacakan buku dan/atau, peserta didik  dan guru membacakan dalam hati yang sesuai dengan konteks atau target sekolah. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke kegiatan pengembangan, dan pembelajaran berdasarkan kurikulum K13.

Metode pembelajaran Kurikulum 2013 yang menempatakan  peserta didik sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, kegiatan literasi tidak lagi terfokus pada peserta didik semata. Guru, sebagai fasilitator juga sebagai subjek pembelajaran. Akses yang luas pada sumber informasi baik realistis maupun dunia maya dapat menjadikan peserta didik menjadi lebih tahu dari pada guru. Oleh karena itu, kegiatan peserta didik dalam berliterasi tidak lepas dari kontribusi guru. Guru harus berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru harus menajdi figur teladan dalam literasi disekolah.

Dalam konteks menjadikan sekolah menjadi sekolah yang literat maka subjek dalam gerakan ini adalah peserta didik, kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, pustakawan, pengawas, dan masyarakat (orang tua peserta didik). Semua komponen warga sekolah ini berkolaborasi dalam tim literasi sekolah (TLS), di bawah koordinasi kepala sekolah, dengan memberikan kewenangan kepada TLS untuk membuat rencana tindak lanjut hingga pada pelaksanaan dan asesmen program.

Transformasi Out Put

Kata transformasi, berasal dari kata bahasa Inggris yakni transform. Yang memiliki arti, mengubah (bentuk). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), transformasi mengandung arti perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi). Jadi transformasi dalam proses pembelajaran diartikan sebagai proses pergantian atau perubahan bentuk. Dengan kata lain transformasi adalah sebuah proses pengubahan bentuk atau pengolahan sesuatu agar berubah menjadi bentuk lain (Arikunto, 2013). Transformasi yang sedang kita bicarakan ini adalah transformasi dalam arti umum sebagaimana yang telah dipahami oleh umum, yakni pergantian bentuk antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Peserta didik yang sedang belajar diumpakan sesuatu yang dimasukan ke dalam pemrosesan untuk diubah dari “belum tahu atau belum dapat menjadi sudah tahu atau sudah dapat”.

Out put, dalam kamus bahasa Inggris –Indonesia artinya hasil. Dalam konteks ini out put dapat diartiakan sebagai hasil yang diharapkan  dari proses transformasi pembelajaran.

Tentunya semua kita mengharapkan proses dari transformasi ini menghasilkan out put yang baik. Out put yang mampu menjawab kecakapan abad 21 yang menjadi cita-cita besar bangsa Indonesia. Keterampilan  abad 21 yang mencakup, pertama, kualitas karakter, bagaimana  peserta didik beradaptasi pada lingkungan yang dinamis dengan karakter yang religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas.  Kedua kompetensi, bagaimana peserta didik memecahkan masalah kompleks, dengan berpikir kritis, kreativitas, komunikatif dan kolaboratif. Dan ketiga keterampilan literasi dasar, bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan dasar sehari-hari yang meliputi 6 (enam) literasi dasar yakni literasi baca tulis, literasi berhitung (numerasi), literasi sains, literasi teknologi informasi dan komunikasi (digital), literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan.

Nah, bagaimanakah GLS menjawabi tuntutan ini?

Enam (6) literasi dasar di atas, antara lain, pertama literasi baca tulis, mencakup kemampuan peserta didik dalam memahami teks, audio, video, dan gambar, juga menuangkan ide kedalam tulisan, kedua, literasi numerasi, kemampuan peserta didik dalam menginterpretasikan simbol dan angka serta informasi dalam bentuk grafik, tabel, bagan dan diagram. Ketiga, literasi sains, kemampuan peserta didik untuk memahami fenomena alam di sekitar dengan menggunakan metode berpikir inkuiri. Keempat, literasi digital, kemapuan peserta didik dalam berkomunikasi dan menggunakan konten positif melalui dunia digital dengan bujak. Kelima, literasi finansial, kemampuan peserta didik dalam pengelolahan keuangan, dan keenam,  literasi budaya dan kewarganegaraan, kemampuan peserta didik untuk memahami dan bersikap terhadap keragaman budaya Indonesia, dan juga memahami dan menerapkan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Sekolah yang merupakan tempat untuk “mengolah”  peserta didik, yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, harus berkemas, berbenah, bahkan lari menjemput “bola”, tidak hanya diam dan mengeram. Sekolah harus menjadi roh, yang menyemangati, memberikan spirit. Guru yang merupakan penggerak utama, harus memiliki kecakapan dan kempetensi yang mantap agar mampu mengorganisir proses pembelajaran dengan efektif dan efisien guna mencerdaskan generasi emas bangsa. Guru harus mampu merancang strategi literasi dalam pembelajaran dengan menggunakan semua metode pembelajaran, guru mampu menumbuhkan dalam diri peserta didik, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis dalam aktivitas pembelajaran,  membudayakan gerakan membaca, dan mengarahkan peserta didik memaknai pembelajaran dengan kontekstualisasi pembelajaran.

Selain itu, pemerintah baik daerah maupun pusat, harus berkewajiban memberikan dukungan yang konstruktif, demi tercapainya cita-cita besar bangsa ini. Ketika sekolah sudah memiliki gedung perpustakaan yang mengah, namun hanya dihiasi dengan lemari dan rak-rak buku yang kosong, bagaiman gerakan literasi sekolah ini berjalan dengan baik. Semoga. (*)

No comment for Gerakan Literasi Sekolah dan Transformasi Out Put Menjawab Kecakapan Abad 21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.