Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Gempa Makin Keras, Puncak Ile Lewotolok Longsor, Masyarakat Adat Lewohala Batal Rayakan Misa

Gempa Makin Keras, Puncak Ile Lewotolok Longsor, Masyarakat Adat Lewohala Batal Rayakan Misa

(3072 Views) October 10, 2017 7:53 am | Published by | No comment

Masyakarat adat Lewohala menari soka sele di lereng Ile Lewotolok. (foto: sandro)

LEWOHALA, aksiterkini.com – Selasa, 10 Oktober 2017, gempa kembali mengguncang Pulau Lembata. Dini hari sekira pukul 01.34 Wita, gemba berkekuatan 4,3 SR mengguncang Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan dan Nubatukan. Warga berhamburan keluar rumah, termasuk warga masyarakat adat Lewohala yang sedang merayakan ritual adat di lereng Ile Lewotolok.

“Kami baru selesai menari dan masuk ke rumah adat masing-masing suku saat gempa mengguncang. Warga yang sedang melaksanakan pesta kacang sempat panik dan berhamburan keluar rumah adat. Tapi petugas BNPB Lembata menghimbau agar warga tidak boleh panik, tapi tetap waspada,” ungkap wartawan aksiterkini.com, Sandro Balawangak, dan diamini Yogi Making.

Kedua wartawan aksiterkini.com itu sedang mengikuti ritual adat bersama sanak keluarga mereka di kampung adat Lewohala. Rangkaian acara adat Lewohala yang dimulai sejak akhir pekan lalu, baru akan tuntas Selasa (10/10/2017), dan masyarakat kembali ke desanya masing-masing pada Rabu (11/10/2017).

Menurut keduanya, saat guncangan pertama, terdengar bunyi longsoran dari puncak gunung Ile Lewotolok. Bunyi longsoran kian keras ketika guncangan gempa kedua sekira pukul 02.55Wita dengan kekuatan 4,6 SR. Longsoran terlihat cukup jelas dari Hadakewa, kecamatan Lebatukan. “Kami lihat abu naik, tapi tidak kelihatan bunga api,” ucap Vano Losor, yang menghubungi aksiterkini.com dari Hadakewa.

Sandro Balawangak dan Yogi Making menjelaskan bahwa longsoran dari puncak Ile Lewotolok tidak sampai di perkampungan adat Lewohala. Sehingga, warga masyarakat adat tetap melaksanakan ritual adat seperti biasa.

Rencananya, pukul 09.00 Wita, tadi pagi, masyarakat adat Lewohala menggelar misa yang dipimpin oleh Pastor Paroki Waipukang, Romo Arnoldus Guna Koten,Pr. Akan tetapi, sekitar pukul 06.43, kembali terjadi lagi gempa yang lebih kuat, sekitar 4,9 Skala Richter. Warga berhamburan keluar rumah adat. Trdengar longsoran semakin keras. Kontan saja, mereka membatalkan agenda misa syukur seturut ajaran Katolik tersebut.

Batu yang terguling masuk ke badan jalan gara-gara diguncang gempa. (foto: ist)

Akibat guncangan gempa yang kian menguat, bebatuan pun terperosok ke badan jalan. Seperti tampak di desa Lamagute, desa yang dipadati bebatuan. Bahkan, ada batu yang menimpuk rumah warga desa.

Sejumlah relawan Lembata langsung terjun ke pemukiman penduduk di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur untuk bersiap-siap tidak terpaksa dilakukan evakuasi. Bahkan, Danramil Lembata, Ignasius pun ikut terjun ke lapangan.

Danramil sempat memberi penjelasan bahwa status gunung Ile Lewotolok masih tetap pada level waspada. “Dan pada level ini belum ada tindakan pengungsian. Bila statusnya sudah naik menjadi level siaga dan awas maka warga akan dievakuasi,” ungkap Danramil Lembata, Ignatius saat mengunjungi warga delapan desa di kampung adat Lewohala.

Didampingi oleh kepala desa Todanara dan Belen Raya, Bapak Sole, Danramil Ignatius meminta warga untuk tetap melanjutkan seremonial ritual pesta kacang hingga tuntas.

Pihak BNPB pun menyiagakan pasukannya di lapangan. Termasuk, di lokasi ritual adat. Mereka terus menerus menghimbau warga agar tidak panik.(fre)

No comment for Gempa Makin Keras, Puncak Ile Lewotolok Longsor, Masyarakat Adat Lewohala Batal Rayakan Misa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.