Menu Click to open Menus
Home » EKBIS » Garam Lembata Mesti Aduhai Seperti Garam Sabu Raijua

Garam Lembata Mesti Aduhai Seperti Garam Sabu Raijua

(704 Views) November 9, 2016 6:51 am | Published by | No comment

Petrus Sinun Manuk (foto:sandrowangak)

LEWOLEBA, aksiterkini – Kabupaten Sabu adalah kabupaten pulau sama dengan Kabupaten Lembata. Iklim, topografi dan geografis juga sama dengan Lembata. Sabu kering kerontang. Lembata pun demikian. Satu pulau yang dikelilingi laut.

Bedanya adalah Lembata menjadi anak sulung untuk NTT ketika semangat otonomi daerah  menggelinding awal-awal. Lembata menjadi daerah pemekaran pertama menjadi kabupaten, lepas dari Flores Timur. Sedangkan Sabu jauh belakangan menjadi kabupaten.

Ironisnya, napsu membangun Sabu di tangan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke melesak pesat. Melaju cepat. Belum 10 tahun menjadi kabupaten, Sabu Raijua sudah kesohor di negeri Sakura. Negeri para pangeran Samurai. Bukan karena orang Sabu lihai memainkan samurai, tetapi karena produksi Garam Sabu menembus pasar negeri Negeri Putri Miyabi. Inilah Sabu. Kering dan kerontang. Tetapi produksi garam sungguh menjadi andalan dalam mendongkrak PAD Sabu Raijua. Luar biasa, aduhai garam Sabu. Putih bersih licin bak nona Sabu. Jadi rebutan di pasar Tuan Honda Nakamura, Jepang.

Kisah kesohor Garam Sabu ternyata memantik rasa penjabat Bupati Lembata, Sinun Piter Manuk. Dia gregetan.

Bukan karena merasa kalah dengan Marthin Dira Tome soal aduh bangun kampung halaman. Piter justru menimbah ilmu dari Dira Tome. Pun, Piter sudah menghubungi Dira Tome demi jalin kerja sama agar hasil produksi garam Lembata bisa dikirim ke negeri Ratu Miyabi bersama garam Sabu Raijua.

Semangat Piter Manuk yang gregetan dengan garam ini selalu disampaikan kepada masyarakat, kapan dan dimanapun dia melakukan kunjungan kerja. Mendorong semua pihak untuk melirik lahan produksi garam di Lembata bah gadis manis cantik dan jelita.

Seperti yang disampaikan Piter Manuk di rumah jabatannya, 8 November 2016 saat bertemu beberapa pekerja media yang saban hari meliput di Lembata.

“Tirulah Sabu yang sudah bisa menghasilkan Rp 100 miliar per tahun dengan produksi garamnya. Saya kira secara geografis Lembata hampir sama dengan Sabu. Lembata masih punya wilayah Tanjung Ile Ape dan Tanjung Leur. Saya minta rencanakan dengan baik untuk pengembangan ke depan. Soal pemasaran kita sudah punya perusahaan ikan di Lembata yang bersedia mengambil garam dari tambak garam Tapobaran. Tadi Direktur PT EISINDO sudah nyatakan kesediaan untuk memanfaatkan garam dari Tapobaran. Pemerintah pasti bantu. Tetapi kembangkan lebih besar lagi,” ujar Sinun Petrus Manuk.

Manuk mengungkapkan garam Lembata mampu meningkatkan PAD Lembata. Sebab lokasi tambak garam di Lembata merata di beberapa lokasi.

Di Tanjung Tuak Ile Ape dengan lahan seluas 315 ha. Ada 32 ha di Waiekeng pertigaan Muruona Watodiri. Juga 900 ha di Leur.

“Saya merasa gregetan dengan potensi garam di Lembata. Dan tahun 2017, proyeksi pemerintah pusat membangun 50 ha di tanjung Tuak ile ape. Selanjutnya akan terus diintervensi pemerintah. Bahan baku air laut. Tersedia dan tidak pernah habis. Sementara di Tapobaran diintervensi pemerintah melalui APBD II.”, tutur Manuk.

Sebelumnya,.sekira awal September Manuk sudah memanen perdana produksi garam di Tapobaran.

Garam Tapobaran ini hasil produksi kerja sama antara 30 KK warga Desa Tapobaran dan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lembata. Sedikitnya 50 ton garam pun dipanen dari 10 meja garam yang dikembangkan dengan teknologi Gemembrane.

Kepala Dinas Koperindag kabupaten Lembata, Ansel Bahi, sedikitnya 6 Ha lahan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi tambak garam. Namun sejak pilot project pengembangan garam tahun 2004 lalu mandek, pihak Koperindag mulai mengembangkan 2,5 Ha. 1,5 ha dengan teknologi Madurist dan Portugis sementara 1,5 ha lahan lainnya dikembangkan dengan teknologi Geomembrane. Keunggulan teknologi Gemembrane ini tidak perlu pakai proses iodisasi atau pencucian karena hasilnya sangat putih dan bersih. Dengan teknologi Geooomembrane, kuantitasnya juga lebih banyak, karena memanfaatkan panas dari matahari dan panas dari dasar karpet.

“Dari 1,5 ha lahan, kita bisa panen 50 Ton setiap 10 Hari, kalau dengan teknologi Madurist, kita hanya bisa panen 5 ton per 1,5 ha,” ujar Kadis Koperindag Ansel Bahi.

Ke depan Manuk tetap mendorong semua syakeholder untuk menjadikan garam sebagai salah satu andalan Sumber daya yang mampu mendatang pundi-pundi bagi PAD Lembata seperti Kisah Kesohor garam Sabu Raijua yang aduhai itu. (sandrowangak)

Topik:
News:

No comment for Garam Lembata Mesti Aduhai Seperti Garam Sabu Raijua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *