Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » Gandeng Migran Care dan Kemenlu, Paroki KR Wangatoa Gelar Seminar Human Trafficking

Gandeng Migran Care dan Kemenlu, Paroki KR Wangatoa Gelar Seminar Human Trafficking

(427 Views) June 20, 2017 10:23 pm | Published by | No comment

Pastor Paroki Kristus Raja Wangatoa, Romo Wens Herin, PR ketika menyampaikan sambutan pembukaan seminar.

LEWOLEBA, aksiterkini.com– Paroki Kristus Raja Wangatoa (PKRW), Lembata gandeng Migran Care dan Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan seminar bertajuk “Mekanisme Proteksi Trafficking dan Migrasi Aman”, Selasa (20/6/2017) di halaman gereja Kristus Raja Wangatoa.

Seminar diikuti para pengurus Dewan Pastoral Paroki sekota Lewoleba, para ketua lingkungan dan para ketua KBG Paroki Kristus Raja Wangatoa, utusan OMK sekota Lewoleba dan utusan organisasi gerejani di PKRW. Sedangkan para pembicara yakni Bonansa Taitahitu dari Kemenlu RI, Anis Hidayah dari Migran Care Jakarta dan Rm Gusti Iri, Pr dari Komisi Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Larantuka.

Ketika membuka kegiatan, Pastor Paroki Kristus Raja Wangatoa, Rm Wens Herin, Pr mengatakan penyelenggaraan Tuhan telah membawa para narasumber berada di Wangatoa. Kesempatan berharga bagi semua pihak untuk mendapatkan berbagai informasi penting tentang trafficking dan migran yang aman. Sebab faktanya, merantau (migran) harus diakui membawa banyak keuntungan secara ekonomi meskipun menuai juga banyak masalah.

“Ini, bagi kami sebuah berkat. Saya menyampaikan terima kasih untuk kehadiran narasumber dan semua pihak yang mendukung kegiatan ini,” ujar Herin.

Bonansa yang membawakan materi Mekanisme Proteksi Perlindungan Buruh Migran mengatakan di NTT terdata sebanyak 2200 kasus trafficking. Migran adalah hal yang normal tetapi menjadi tidak normal jika diperdagangkan. Karena itu yang perlu dijaga adalah migrasi yang aman. Bukan migrasi yang celaka.

Mengutip Rm Felix Kosat, Bonansa mengatakan jika kita cinta NTT, kita bisa mencegah praktek perdagangan manusia. Butuh kerja sama semua pihak untuk semua pihak.

Narasumber dan peserta pose bersama seusai seminar.

Ibu Anis secara gamblang memaparkan realitas dan praktek trafficking. Pelaku trafficking adalah adalah oknum aparat pemerintahan dan aparat penegak hukum, calo, agen, keluarga, guru. Modusnya seperti rekrutmen dengan modus umroh, modus rekrutmen calon buruh migran melalui BKK (bursa kerja khusus) di SMK, modus penipuan beasiswa, modus rekrutmen PRT migran, penempatan ABK terutama kapal ikan.

“Jangan mau berangkat tanpa dokumen. Perlu ada kesadaran akan hak-hak dan memiliki informasi sebanyak-banyaknya soal migran yang aman,” ujar Ibu Anis.

Sementara Rm Gusti mengatakan Keuskupan Larantuka menempatkan persoalan trafficking sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pelayanan pastoral. Dengan membeberkan sejumlah data mulai dari tingkat pendidikan hingga motivasi dan masalah migran di wilayah Keuskupan Larantuka, Rm Gusti juga mengungkap data keterlibatan aparat dan lemahnya sosialisasi sehingga orang tidak memiliki informasi yang benar soal migran yang aman. NTT lalu disebut sebagai kantong human trafficking, darurat trafficking dengan korbannya adalah perempuan dan anak-anak.

Dalam sesi dialog, Ibu Anis menegaskan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang justru melegitimasi kepentingan bisnis kapitalis yang juga berada di balik human trafficking.

“Migrasi itu tumpuan hidup. Masyarakat sipil, pemerintah, gereja dan semua pihak harus bersama membangun spirit untuk melawan praktek human trafficking dan tidak memberi tempat bagi mafia kejahatan seperti ini,” ujarnya. (fince bataona)

No comment for Gandeng Migran Care dan Kemenlu, Paroki KR Wangatoa Gelar Seminar Human Trafficking

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *