Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Fotografer Klarifikasi Foto yang Dipakai Saat Launching Festival Saya Baca; “Izin yang Saya Berikan…”

Fotografer Klarifikasi Foto yang Dipakai Saat Launching Festival Saya Baca; “Izin yang Saya Berikan…”

(628 Views) December 13, 2017 3:23 am | Published by | No comment

Fotografer, Adi Ubas Tapoona

KUPANG, aksiterkini.com – Foto yang digunakan Pemkab Lembata sebagai latar saat launching Festival Saya Baca di Perpustakaan Negara Republik Indonesia (PNRI), Jakarta, Selasa (12/12), dan “digugat” Taman Daun, ternyata hasil jepretan fotografer, Adi Ubas Tapoona. Bahkan, fotografer pula yang mengijinkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Lembata untuk menayangkan foto tersebut. Namun, ia sempat menyarankan agar pihak Pemkab mengkomunikasikannya dengan Taman Daun.

“Selama sebuah karya foto itu punya watermark, foto itu adalah milik mutlak fotografernya. Ini aturannya jelas,” tandas Adi Ubas Tapoona, kepada Fince Bataona melalui WhatsApp, Rabu (13/12).

Adi Ubas Tapoona dihubungi berkaitan dengan protes keras yang dilancarkan relawan Taman Daun, John S. Batafor terkait penayangan dua foto tentang aktivitas di Taman Daun.

Sebagaimana diberitakan aksiterkini.com sebelumnya, Jhon S. Batafor menyayangkan sikap tidak profesionalnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Lembata yang menggunakan foto aktivitas di Taman Daun sebagai latar launching Festival Saya Baca di Jakarta, Selasa (12/12/2017). Pasalnya, pihaknya sudah menegaskan agar foto tersebut tidak digunakan. Tapi, pihak Pemkab Lembata tetap menayangkannya.

“Kami sudah didekati untuk minta foto itu. Tapi semua relawan Taman Daun menolak. Awalnya, Pak Kadis mau bertemu relawan, tapi tidak jadi. Sehingga kami juga tidak mengijinkan foto itu digunakan,” tandas relawan Taman Daun, Jhon S. Batafor.

Dia mendesak agar pihak penyelenggara launching Festival Saya Baca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Lembata segera mengklarifikasi darimana dua foto aktivitas Taman Daun itu diperoleh.

“Lalu, siapa yang mengijinkan untuk menggunakan foto tersebut pada acara launching Saya Baca? Gerakan literasi harus dimulai dengan kejujuran dan keikhlasan. Dan, kami sudah memulainya dengan swadaya penuh dan dukungan para donatur dari dalam maupun luar daerah, dan sama sekali tak mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Jangan racuni gerakan kami dengan cara-cara yang tidak elegan,” sesal Jhon S. Batafor.

Belum ada klarifikasi dari pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Lembata. Namun fotografer, Adi Ubas Tapoona mengaku telah mengikuti perkembangan masalah ini melalui media online maupun media sosial. “Setelah membaca semua postingan, dan didesak oleh beberapa teman fotografer profesional tentang foto yang punya watermark, saya akan menjelaskan dari pihak saya,” ujarnya, mengawali penjelasannya kepada aksiterkini.com.

Berikut petikan lengkap penjelasan fotografer Adi Ubas Tapoona terkait foto yang ditayangkan di acara launching Festival Saya Baca:

1). Kepemilikan

Selama sebuah karya foto itu punya watermark, foto itu adalah milik mutlak fotografernya. Ini aturannya jelas.

2). Media Online

Semua media online yang menuliskan berita tentang penggunaan foto itu, tidak menyebutkan saya, kalau belum tahu siapa pemilik mutlak sebuah karya foto,  “minimal menyebutkan nama saya sebagai fotografer yang memproduksi foto” atau mengkomunikasikan kepada saya tentang watermark pada foto tersebut. Saya secara pribadi sangat tersinggung!

3). Kepentingan

Setelah foto ini diproduksi, saya mendedikasikan hasilnya kepada Taman Daun. Artinya, setiap hasil penjualan dari foto ini, semuanya demi kepentingan Taman Daun. Tetapi, tetap menggunakan watermark saya! Karena kita kaka ade, harga jual ditentukan sendiri oleh Taman Daun, dan satu sen pun saya tidak perlu tahu (No Royalty). Menjadi dokumentasi Taman Daun tidak berarti kepemilikan foto berpindah tangan. Ini karya saya yang saya persembahkan demi kepentingan Taman Daun.

Kepentingan fotografer: saya menggunakan beberapa hasil dari foto ini untuk beberapa pameran, dan lomba fotografi dengan tetap menggunakan watermark saya.

Ketika dihubungi oleh Pemda Lembata tentang foto saya yang hendak digunakan di tingkat nasional, saya setuju dan bahkan mengirim foto dengan resolusi terbaik sebab saya sendiri tidak ingin resolusi foto saya rusak di tingkat nasional. Izin yang saya berikan atas dasar watermark sebagai kepemilikan mutlak. Tetapi karena mengingat relasi antara saya dan TD, serta relasi TD dan pemda, dan karena settingan foto ini di TD, maka saya menganjurkan “alangkah etisnya kalau mengkomunikasikan kepada TD bhw foto ini digunakan”. Bahasa dialog seperti apa pun dari pemda ke Taman Daun, itu bukan ranah fotografer.

Dengan demikian, kepentingan saya sebagai fotografer adalah saya ingin hasil karya saya juga berada dan dikenal di tingkat nasional. Apalagi di Perpustakaan Negara Republik Indonesia yang tak pernah sepi pengunjung.

Pemda tidak memberikan sepeser pun untuk foto ini kepada saya, tetapi saya sebagai fotografer merasa bangga bahwa hasil karya saya juga dipakai di tingkat Nasional.

Cukuplah hasil karya saya mendapatkan apresiasi moral mulai dari Taman Daun, Pemda dan di tingkat nasional, tetapi saya yakin efek baiknya akan besar di masa depan.

“Ini penjelasan saya sebagai fotografer yang memproduksi hasil karya tersebut, ema. Kalau berdebat tentang kepemilikan mutlak sebuah karya foto, penjelasan saya seperti itu. Itu aturannya jelas, ema,” tulis Adi Ubas Tapoona kepada Fince Bataona dari aksiterkini.com mengakhiri penjelasannya.(fre)

No comment for Fotografer Klarifikasi Foto yang Dipakai Saat Launching Festival Saya Baca; “Izin yang Saya Berikan…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.