Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Erich  Langobelen; Religiusitas dari Ruang Kesunyian

Erich  Langobelen; Religiusitas dari Ruang Kesunyian

(799 Views) September 11, 2017 2:42 pm | Published by | 2 Comments

Harian Kompas, Sabtu (18/02/2017) memuat lima judul puisi Erich Langobelen, yakni Apostolos, Pelajaran Menghitung 1, Pelajaran Menghitung 2, Oculus 2 dan Ke Hadapan Rahasia. Sebuah apresiasi yang tinggi, bahwa  NTT sudah mulai pelan-pelan menunjukkan taringnya di dunia sastra.

Mahasiswa STFK Ledalero, yang kini berdomisili di Lambunga-Adonara ini, sudah menerbitkan dua judul buku yakni Luna dan Mauseloum. Setelah menamatkan pendidikan SMAnya di Seminari San Dominggo (Sesado) Hokeng pada tahun 2012, putera Lembata ini pelan-pelan mencintai serta menekuni dunia puisi. Karya-karyanya pernah diterbitkan di beberapa media yakni Flores Pos, Pos Kupang, Jurnal Sastra Santarang, Antologi Penyair NTT, Antologi Sastrawan NTT, Jurnal Linear, Jurnal  Komunitas KAHE, Media Indonesia dan Harian Kompas.

Tak hanya itu, ia juga pernah tercatat sebagai peserta Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA), yang menyelenggarakan program penulisan drama bersama para penulis dari negara-negara anggota MASTERA (Bogor, 2015). Bukunya yang kedua berjudul Mauseloum terpilih untuk mengikuti Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI), 19-21 Juli 2017.

Selain itu, ia juga terpilih sebagai salah satu peserta yang lolos dalam Festival Ubud Writers  and Readers di Denpasar Bali. Jejak kepenyairannya melejit drastis beberapa tahun belakangan ini. Bahkan sosok Najwa Shibab, mantan jurnalis Metro TV yang pernah berkunjung ke Lembata tak sungkan-sungkan untuk membaca karya Erich Langobelen seusai menutup acara Talk Show di Kuma Resort.

Dari Erich Langobelen, saya membaca karya-karya bernas, dengan pencerahan filosofis yang padu. Yang tidak hanya berakar pada kebatinan tetapi juga lokalitas budaya setempat. Puisi-puisi Erich, jika dibaca lebih jauh akan menampilkan gaya bahasa, keterpilihan kata-kata serta bunyi yang indah. Saya berani mengatakan bahwa Erich sebetulnya telah banyak membaca karya-karya Goenawan Muhamad. Seluruh derap puisinya sangat  mirip dengan karya Goenawan. Tapi yang pasti, Erich telah belajar memadukan gaya bahasa dengan pisau kata yang tajam lewat pemaknaan kata-katanya.

Maka tak heran, membaca puisi Erich,  kita diarahkan  untuk  menyelami kedalaman bahasa yang rumit serta  penalaran yang tajam dalam mengupas setiap kata demi kata. Puisi-puisi Erich cenderung sulit. Karena itu, kita harus membaca terus-menerus, membaca secara hati-hati dan dibutuhkan kerja yang serius dalam memaknai setiap kata yang terkandung di dalamnya.  Erich  tidak banyak membuka peluang  pembaca dalam menafsir, tetapi  membuat pembaca mengembara dan bertanya.

 Biarkan Puisi Berbicara Kepada Pembaca

Horatius, seorang kritikus Romawi pernah mengatakan bahwa, setidaknya puisi itu memiliki dua hal, yakni harus indah dan menghibur (dulce), tetapi juga berguna dan mengajarkan (utile). Maka, memilih untuk mencintai puisi berarti memilih untuk  mengajar, memberi ruang refleksi kepada setiap orang tentang makna kehidupan. Hal ini selaras dengan salah satu tujuan penciptaan karya sastra yakni decore (mengajarkan sesuatu kepada pembaca).

Karena itu, puisi semestinya lahir dari ruang kesunyian batin, yang dikontemplasikan oleh setiap bunyi yang tampak dalam realitas. Bunyi itu lahir dari  percakapan alam; desis angin, hujan yang tumpah di atap genteng, derap telapak kaki yang menyeret debu dan sunyi yang seolah mati tanpa gaduh. Demikian pula puisi,  diciptakan dan lahir kedalam perbincangan yang tanpa jedah. Seperti yang disitir oleh penyair Hartojo Andangdjaja bahwa puisi yang dicipta harus melalui sebuah proses, yang perlu memiliki napas yang bergerak dari ‘sunyi ke bunyi’.

Demikian pula puisi-puisi yang ditulis oleh Erich Langobelen. Saya menemukan kedalaman refleksi religius yang tampak dari puisi penyair ini. Seperti pada larik pertama puisi Apostolos yang diterbitkan Harian Kompas baru-baru ini, Erich Langobelen menulis:

Seharusnya dalam berlayar

Tak perlu mereka memiuhkan ketakutan

Pada lerai angin ataupun musim

Dan mendaraskan Pater Noster atau Mea Culpa.

Pada puisi itu, kita diajak untuk menikmati sebuah perjalanan, yakni berlayar. Yang tampak pertama dalam ingatan kita adalah buih ombak dan perahu yang berlabuh di bibir pantai. Lalu perlahan-lahan Erich mengajak pembaca untuk terlibat dalam pelayaran. Tentu dalam berlayar selalu saja ada tantangan. Maka, Erich mengajak setiap orang untuk tidak perlu memiuhkan ketakutan. Yang mana bisa jadi disebabkan oleh angin ataupun musim yang kadang tak bersahabat.

Maka di dalam segalanya itu, Erich mengajak kita untuk ‘mendaraskan Pater Noster atau Mea Culpa’. Pater Noster (bahasa Latin: Bapa Kami) dan Mea Culpa (bahasa Latin: Saya Berdosa) merupakan doa serentak  permohonan ampun kepada Tuhan, Sang Kemudi Abadi, yang mengarahkan perahu ke  lautan kebahagiaan.

Ini merupakan salah satu religiusitas dari puisi Erich. Pembaca bisa jadi diajak berlayar ke kedalaman hatinya sendiri, menemukan segala onak dan ombak yang membuih di hati, dan akhirnya dapat berlabuh di dermaga Tuhan dengan aman. Artinya, kita diajak untuk tidak meninggalkan Tuhan saat suka maupun duka.

Puisi-puisi Erich Langobelen banyak tidaknya selalu terkait erat dengan kitab suci agama Katolik. Seluruh derap puisinya selalu memberi ruang refleksi bagi pembaca. Artinya, pembaca tidak hanya disuguhkan refleksi  tetapi juga mata batin yang mampu mengolah daya pikir untuk menangkap setiap deretan makna yang tersembul dari setiap larik yang terbujur apik. Dengan begitu, puisi mesti hidup dan bernafas serta menyentuh relung hati dan mengubah laku. Setidaknya, Erich sudah mulai memilin bunyi dari setiap sunyi, dan kini pekikan karyanya sudah masuk ke media Nasional.

Karena itu, jangan sungkan untuk menulis, jangan takut karya anda belum sebaik yang diharapkan. Karena pembaca selalu membaca dari sisi mereka. Biarkan puisi anda berbicara kepada mereka tentang rahasia sebuah percakapan batin di ruang yang paling sengit.(Yurgo Purab)

2 Comments for Erich  Langobelen; Religiusitas dari Ruang Kesunyian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.