Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Diskusi Publik API Reinha Rosari; Viktor Mado Akui Kekurangan Lembata Baru

Diskusi Publik API Reinha Rosari; Viktor Mado Akui Kekurangan Lembata Baru

(1287 Views) July 23, 2016 4:06 pm | Published by | No comment
API Reinha Diskusi

Diskusi Publik API Reinha Rosari dipandu Satria Betekeneng.

LEWOLEBA, aksiterkini.com — Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun, SH mengakui sejumlah kekurangan pemerintahan Lembata Baru dalam mengisi otonomi Lembata lima tahun terakhir. Belanja aparatur yang lebih tinggi daripada belanja publik, serta penempatan orang yang tidak sesuai disiplin ilmu merupakan fakta yang diakuinya.

“Kita harus akui bahwa selama lima tahun kami memimpin bersama Bupati Yance Sunur, biaya aparatur lebih besar daripada biaya publik. Gaji pegawai, tunjangan kinerja, perjalanan dinas. Visi misi Lembata Baru juga tidak pada target atau sering bermasalah. Sering saja, apa yang sudah disepakati, dirubah,” ujar Viktor Mado Watun.

Hal itu disampaikan Viktor Mado Watun ketika tampil sebagai pembicara dalam diskusi publik dengan thema “Curah Pendapat 17 Tahun Otonomi Daerah  Kabupaten Lembata”, di aula kantor Camat Nubatukan, Sabtu (23/7/2016). Forum diskusi yang digelar Aktivitas Pendalaman Iman (API) Reinha Rosari – Mahasiswa Katolik Dioses Larantuka Kupang ini menghadirkan panelis selain Mado Watun, juga mantan penjabat Bupati Lembata, Drs. Piter Boli Keraf, pakar Hukum Tata Negara, Dr. Kotan Y. Stefanus, SH, MHum, dan Deken Lembata Romo Sinyo da Gomez, Pr.

Viktor Mado mengaku tak bisa berperan karena selalu dibatasi. Ya, “Ini karena otoritas bupati, otoritas keuangan. Ada yang magister perikanan ditempatkan di kependudukan. Ketika saya omong, katanya saya tidak punya kewenangan. Saya tidak pernah loyal terhadap orang. Saya loyal terhadap aturan,” tandasnya.

Mantan penjabat bupati, Piter Boli Keraf menuturkan bahwa, otonomi Lembata harus dilaksanakan dalam kerja konkrit. “Kita harus melakukan hal yang konkrit untuk membangun Lembata. Kemakmuran masyarakat diukur dengan pohon-pohon kemakmuran yang ditanam oleh masyarakat. Jangan menghayal untuk memaknai otonomi ini dengan hura-hura membangun daerah ini. Kita bisa ukur pendapatan perkapita masyarakat Lembata ini. Seharusnya pemerintah harus bisa membuat pembahasan yang tepat dan mantap untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Lembata,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Kotan Y. Stefanus mempertanyakan mengenai pelaksanaan otonomi daerah selama 17 tahun ini apakah sudah mengatasi persoalan masyarakat atau belum. Ya, “Apakah otonomi daerah yang telah di penghujung ini betul-betul menjadi obat mujarab yang menyelesaikan segala penyakit dan persoalan yang terjadi? Ataukah sebaliknya, menjadi racun yang menghancurkan Lembata? Ini yang harus direfleksikan. Orang lapar bukan karena nasib namun kekurangan demokrasi. Apakah demokrasi yang kita 17 tahun ini sudah cukup baik?” ujar mantan Ketua API Reinha Rosari ini, retoris.

Kotan menjelaskan, hal penting dalam demokrasi yakni partisipasi masyarakat. “Otonomi daerah membuat masyarakat berpikir secara demokratis terhadap realitas yang terjadi dan kualitas demokrasi dapat dilihat dari pertanggungjawaban pemerintah terhadap beban yang dipikul. Setiap kebijakan yang dibuat, ketika dikritik oleh masyarakat, seharusnya pemerintah dalam hal ini pemimpin memberikan pertanggungjawaban, menjelaskan bahwa kebijakan ini, capaiannya begini. Jangan kalau dikritik, dilapor.  Ini contoh demokrasi belum tercapai. Aspek yang  perlu dibenahi adalah demokrasi,” tegasnya.

Menurut dia, pemimpin haruslah memberikan rasa bangga pada masyarakat. “Kualitas pemimpin itu diukur dari dua hal, yakni kemampuan inteletual dan integritas. Integritas moral, integritas politik juga termasuk. Orang hebat pada umumnya yang dibanggakan adalah integritasnya bukan kebejatannya,” jelas Dosen Hukum Undana ini.

Romo Sinyo da Gomes menuturkan bahwa walaupun berjalan lambat, tapi secara fisik ada sedikit perubahan di Lembata selama otonomi 17 tahun ini. Namun yang disayangkan adalah pembangunan manusia yang belum maksimal.

“Pembangunan manusia, pembangunan tidak dimaknai dengan barang, namun orangnya. Karena manusia adalah dasar atau sumber dari pembangunan itu. Spirit taan tou hanya selogan saja. Hilangnya nurani kemanusian. Kecongkakan, iri, egois, kejahatan, pembunuhan dan lain sebagainya muncul tanpa melihat ini saudara saya. Inikah yang namanya otonomi? Kita seharusnya bersyukur kepada elemen masyarakat yang memberikan keritikan, karena itu bagian dari kontrol sosial,” jelas Deken Lembata ini. (osy)

Topik:
News:

No comment for Diskusi Publik API Reinha Rosari; Viktor Mado Akui Kekurangan Lembata Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.