Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Dari  Seminar Ikan Paus: Menonton Ikan Paus?Take Nawe!

Dari  Seminar Ikan Paus: Menonton Ikan Paus?Take Nawe!

(851 Views) November 2, 2016 12:00 am | Published by | No comment

Tepuk tangan sehari sebelumnya di Neme Bataona seolah menguap di langit-langit aula Baleo, Hotel Palm Indah Lewoleba, Rabu (2/11). Jelang sore juga, seperti di Neme Bataona. Ada rasa kecewa yang tak bisa disembunyikan dari wajah-wajah  nelayan Lamalera dan pnete alep (perempuan Lamalera). Karena saya anak Lamalera, kami bicara dalam bahasa kami.

“Kame pe naniga (kami ini bagaimana?). Sebetulnya apa yang direkomendasikan dari seminar ini?”

Hingga selesai, memang tak ada rekomendasi. Mereka pulang dengan pertanyaan yang masih mengambang di pikiran. Meski secara tegas, Kepala Dinas Pariwisata NTT, Dr Marous Ardu Djelamu, M.Si,  Penjabat Bupati, Drs Petrus Manuk bahkan Deputi Bidang SDM, IPTEK dan Budaya Maritim, Dr Safri Burhannudin mengatakan tradisi penangkapan ikan paus tetap dipertahankan, namun tawaran pengembangan wisata menonton ikan paus mengganggu benak mereka.

Menonton ikan paus?

“Take nawe (Tidak!),” jawab mereka.

Mengapa tidak? Seperti kata anak Lamafa, Bona Beding, budaya penangkapan ikan paus di Lamalera itu bukan budaya yang diatraksikan tetapi dihayati. Orang Lamalera melihat ikan paus itu “kiriman” (knato) dari leluhur untuk menghidupi anak cucu. Dan, tradisi penangkapan ikan paus memiliki aspek spiritual, sosial, moral dan harmonisasi kehidupan di Lamalera.

Jika ingin melihat langsung, seperti ditegaskan putra Lamalera, Dr. Drs Blajan Konradus, para wisatawan bisa ikut melaut bersama para nelayan. Jadi, tidak dengan menonton. “Banyak yang melihat ikan paus itu mamalia. Tapi, bagi masyarakat Lamalera, ada banyak nilai dari ikan paus dan tradisi penangkapannya. Karena ikan paus itu kiriman, sangat terkait dengan ritual dan adat. Jika seluruh ritual adatnya baik, ikan paus itu akan muncul. Sebaliknya, jika ada hal yang tidak beres, ikan paus juga tidak ada dan masyarakat  Lamalera tidak mendapatkan apa-apa.”

Secara tegas, putra Lamalera lainnya, Charles Beraf mengingatkan Lamalera itu beda. Pengembangan pariwisata mestinya berjuang mempertahankan budaya lokal dan bukannya mengkontaminasi budaya lokal. ”Saya juga tegaskan bahwa ikan paus itu dilihat sebagai kiriman dan masyarakat mengambil kiriman itu, bukan memburu,” ujar Beraf membantah pernyataan pemateri Dr Georg H. Engelhard, dari Centre for Enviroment, Fisheries and Aquaculture Science (Cefas)-UK.

Seperti pernah dilontarkan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, saat mendadak datang ke arena Festival Seni dan Budaya Florata, September yang lalu, Seminar Paus menghadirkan pembicara yang setuju atas larangan penangkapan ikan paus dan orang-orang yang menolak larangan tersebut.

Banyak hal yang dibedah, mulai dari strategi pengembangan destinasi pariwisata bahari (Drs Harry Untoro Drajat, Staf Ahli Mentri Pariwisata Bidang Multikultural, Kebijakan, Strategi dan Rencana Aksi Nasional Konservasi Cetacean (Ir Andi Rusandi, M,Si, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, KKP),Optimalisasi Potensi Daya Tarik Wisata Alam dan Budaya Menuju NTT Sebagai Destinasi Utama Pariwisata Indonesia 2018 (Kadis Pariwisata NTT, Dr Marius Ardu Djelamu, M.Si),  Kebijakan Pengelolaan/Konservasi Satwa Liar (Drs Tamin Sitorus, M.Sc, Kepala Balai Besar KSDA NTT), Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata (Drs Sinun Petrus Manuk, Penjabat Bupati Lembata).

Pembicara lainnya, Ir Benyamin Kant, Arifsyah Nasution, Ocean Campaigner Greenpeace Indonesia. Ir Nyoman Sutrisna MM, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Buleleng dan Dr Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia, IPB.

Dan seperti tahun lalu, seminar paus masih jua membahas hal-hal yang sama tentang tradisi penangkapan ikan paus dan menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.“Kame tetap ola nue. Ara narang mi lile koteklema pe take nawe (Kami tetap melaut. Tapi yang namanya menonton koteklema itu tidak).”

Itu pernyataan mereka dalam bahasa kami saat saya temui usai seminar. Tegas. Dan, orang Lamalera kalau sudah bilang tidak, susah berbalik! (fince bataona)

Topik:
News:

No comment for Dari  Seminar Ikan Paus: Menonton Ikan Paus?Take Nawe!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *