Menu Click to open Menus
Home » CATATAN POJOK » Dari Bukit Tinggi dan Jakarta, Wartawati Pertama Indonesia Bersanding Dengan Jurnalis Wanita Lembata

Dari Bukit Tinggi dan Jakarta, Wartawati Pertama Indonesia Bersanding Dengan Jurnalis Wanita Lembata

(895 Views) March 11, 2017 4:55 am | Published by | 2 Comments

 

Thomas Ataladjar

Catatan Abang Thomas Ataladjar melalui akun facebooknya cukup mengejutkan saya. Betapa tidak? Apa yang kami lakukan di kampung halaman, Lembata, adalah menjalankan apa yang bisa kami lakukan untuk kampung halaman kami. Tak lebih. Syukur-syukur bisa punya penghasilan dari menulis. Jika dihitung dari sisi bisnis atau skala ekonomis, maka menjalankan tugas jurnalistik di kampung tak lebih dari sekedar kerja bakhti. Tak banyak orang berduit yang peduli pada aktivitas jurnalistik, apalagi membiayai kegiatan jurnalistik untuk kemajuan daerah. Pejabat pemerintahan pun tak banyak yang berminat mendorong media lokal untuk bisa tumbuh dan berkembang. Tapi, segala sesuatu hari dimulai. Jika sekarang belum, maka suatu ketika bakal bisa bertumbuh subur. Alhasil, dengan dukungan seorang rohaniwan Katolik asal Lamalera yang sedang menjalakan tugas pastoral di tanah Timor, saya dan istri saya, Fince Bataona memulai menerbitkan Mingguan Aksi. Sebelumnya, niatan istri untuk tetap menulis dan menjalankan aktivitas jurnalistik ditumpahkan di Harian Pos Kupang. Selanjutnya, bersama Bung Tonny Kleden, rekannya sesama mantan wartawan Pos Kupang, mereka mendirikan Majalah Kabar NTT yang berkedudukan di Kupang. Sesungguhnya, Tonny menginginkan kami pindah ke Kupang, kala saya melepastugas sebagai anggota DPRD Lembata. Pun, beberapa teman mengajak saya kembali ke dunia jurnalistik di Kupang. Tapi, berdua kami sepakat untuk bertahan hidup di kampung, tentu dengan segala resiko.  

Membaca catatan singkat abang Thomas Ataladjar di hari ulang tahun Fince Bataona, sungguh saya terkesima dan ingin membagikan sekelumit cerita wartawan senior di Jakarta ini. Berikut petikan lengkap catatan tersebut melalui https://www.facebook.com/thomas.ataladjar/posts/1340164496072452 :

Beberapa waktu silam, di Bukittinggi saya memberikan presentasi tentang lima tokoh besar bersaudara dari Ranah Minang. Hadir antara lain Bupati Agam Aristo Munandar serta sejumlah Kepala Dinas dan SKPD Kabupaten Agam. 

Kelima tokoh besar bersaudara tersebut berdarah asal kampung kecil Koto Gadang. Mereka adalah Syekh Khatib Ahmad Al Minangkabawi imam di Mesjid Al Haram, Mekkah, guru dari sejumlah ulama kondang Indonesia, termasuk pendiri NU, KH Hasyim Ashari dan guru dari pendiri Muhammadiah KH Achmad Dachlan.

Keponakan Syekh Chatib adalah Haji Agus Salim ‘The Grand Old Man”, salah satu tokoh pelopor Home Schooling Indonesia, diplomat ulung mantan Menlu RI yang menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Dua keponakan Haji Agus Salim adalah Sutan Syahrir, Perdana Menteri RI pertama, salah satu founding fathers Indonesia yang juga Pahlawan Nasional. Kakak perempuan Sutan Syahrir lain ibu, yakni Siti Rohana Kuddus, wartawati pertama Indonesia, seorang gadis otodidak, pendiri sekolah, sekaligus pendiri dan pemimpin Koran Soenting Melajoe.

Rohana tak pernah sedikitpun “makan bangku sekolahan” alias tak pernah duduk di sekolah formal apapun. Keponakan Rohana Kuddus dan Sutan Syahrir, adalah penyair kondang Pelopor Angkatan 45, Chairil Anwar. Hasil presentasi Ke-5 tokoh bersaudara di Bukittinggi ini menghasilkan sebuah naskah buku berjudul: LIMO URANG BADUNSANAK DARI KOTO GADANG”.(Lima Orang Besar Bersaudara Dari Koto Gadang).

Usai memberikan presentasi muncul serentetan pertanyaan. Tiga di antaranya adalah: Anda berasal dari mana? Mengapa Anda orang Lembata menulis tentang tokoh dari Ranah Minang? Dan ketiga, apakah di Lembata juga ada wartawati seperti Rohana Kuddus?

Pertanyaan mirip, kembali muncul beberapa saat lalu, saat memberikan presentasi dalam acara Temu Mitra YBBAI (Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia) yang juga dihadiri siswa-siswi SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri di Jakarta. Topik presentasi : Jurnalistik-Menulis-Sejarah Perjuangan Bangsa dan Character Building.”

Presentasi ini, menampilkan sejumlah tokoh bangsa yang di masa mudanya bergelut dengan media seperti Ki Hajar Dewantara, Bung Karno, Bung Hata, Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, WR.Supratman, Adam Malik dan lain-lain. 
Kembali ditampilkan juga sosok Rohana Kudus, jurnalis wanita pertama Indonesia. Rohana Kudus lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Bukit Tingggi. Ia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal apapun. 

Rohana belajar secara otodidak di rumah. Pasalnya tak ada sekolah khusus untuk anak perempuan di kampungnya. Ayahnya membimbingnya mengenalkan huruf dan abjad Latin, Arab dan Melayu, dan diajari memainkan alat musik akordeon. Rohana terbilang anak yang rajin, cerdas dan memiliki daya tangkap yang mengagumkan untuk anak-anak seusianya. Semangat belajarnya tinggi. Dalam usia delapan tahun Rohana sudah pintar membaca dan menulis abjad Arab, Latin, Arab Melayu, Bahasa Melayu dan bahasa Belanda serta berhitung. Rohana juga sangat trampil merenda, merajut, membuat hiasan kamar pengantin dan menjahit. 

Ketika budaya Minangkabau masih melarang perempuan keluar rumah masih begitu ketat, Rohana yang baru berusia delapan tahun pada 1892, sudah mulai ”mengajar” teman-temannya membaca dan menulis. Rohana juga mengajarkan aneka keterampilan seperti menjahit, menyulam, merenda, merajut, menenun, membuat bunga tiruan dari kain, pernik-pernik hiasan kamar pengantin serta anyam menganyam. Dalam usia yang belum genap 10 tahun Rohana telah melakukan sesuatu yang belum pernah dibuat orang sebelumnya. Satu-satunya kesedihan terbesar yang dipendamnya adalah bahwa ia tidak bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak laki-laki.

Namun sepanjang hidupnya Rohana telah mengisi hidupnya dalam dua profesi sekaligus yakni sebagai pendidik, wartawati dan organisator. Sebagai pendidik Rohana sudah mengajar teman-temannya dalam usia yang masih bocah. Kemudian Rohana mengajar pada sekolah Amai Setia di Koto Gadang, Bukittinggi mulai tahun 1912. Setelah itu Rohana mengajar pada Roehana School yang didirikannya di Bukittinggi tahun 1916. Sejak 1920 sampai dengan 1923 Rohana mengajar pada sekolah Dharma Puteri di Medan sejak 1920 – 1923. Lalu pada tahun 1924 Rohana kembali ke Bukittinggi dan mengajar di VSM, Bukittinggi. Dengan demikian Rohana mengajar selama 32 tahun.

Sementara kiprah Rohana di bidang pers dan jurnalistik, diawali sebagai Pemimpin Redaksi Sunting Melayu Harian Wanita Pertama, terbit di Kota Padang 1912 mendampingi Harian Utusan Melayu (1912-1920). Rohana juga menjabat sebagai Redaktris Saudara Hindia yang terbit di Kota Gadang 1913. Dari tahun 1920 sampai dengan tahun 1924 Rohana sebagai Pemimpin Redaksi Surat Kabar Perempuan Bergerak di Medan bersama Ny. Satiman Parada Harahap. Dan pada tahun 1924 Rohana menjadi Redaktris Harian RADIO di Padang, 1924. Dengan demikian Rohana menggeluti dunia pers dan jurnalistik sebagai wartawan selama 12 tahun secara terus menerus.

Sebagai organisator, Rohana mendirikan Perkumpulan Kesatuan Amai Setia di Koto Gadang yang bertahan hingga kini berusia lebih dari satu abad.

Pada 1908 Rohana menikah dengan Abdul Kudus gelar Pamuncak Sutan, guru dan aktifis pergerakan, anggota Partai Politik Insulinde yang anti pemerintah Belanda. Pasangan ini sama–sama berjiwa nasionalis. Ingin berjuang bagi kemajuan dan kemerdekaan bangsanya. Rohana, lewat ketajaman penanya mengkritik penjajahan atas negerinya. Ia juga membantu sang suami yang aktifis pergerakan. 

Sebagai wartawati, tulisan- tulisan Rohana di Sunting Melayu lebih banyak berisi politik dan anjuran kebangkitan wanita Indonesia. Tulisan-tulisannya sangat tajam, cerdas, dan mencerminkan cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan Indonesia. Rohana berusaha merubah paradigma masyarakat yang memandang perempuan sebagai makhluk kelas dua yang tak berdaya. 

Rohana adalah tipe perempuan dinamis, cerdas, menyukai tantangan-tantangan baru. Dunia jurnalistik tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Berbekal kemampuan jurnalistiknya, ia turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya. Artikel-artikelnya membakar semangat juang para pemuda untuk melawan Belanda. Lewat artikel-artikel dan pengetahuan politiknya, Rohana mengobarkan semangat juang para pemuda untuk segera membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Rohana memelopori berdirinya dapur umum dan aktif membantu para gerilyawan. Rohanalah yang mencetuskan ide bernas menyelundupkan senjata dari Koto Gadang ke Bukit Tinggi melalui Ngarai Sianok. Penyelundupan ini sangat rapi sehingga tidak ketahuan oleh Belanda. dengan cara menyembunyikan senjata dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Rohana hidup di zaman ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan sangat dibatasi. Ia hidup sezaman dengan RA Kartini hanya terpaut lima tahun lebih muda dari Kartini. Kartini layak menjadi pejuang emansipasi nomor satu di negeri ini karena perjuangannya terdokumentasi dengan baik. Bahkan kumpulan surat Kartini dibukukan dengan judul “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Ketika Kartini masih asyik mengungkapkan ide-ide perjuangannya lewat surat kepada JH Abendanon atau Stella Zeehandelaar, Rohana Kudus sudah asyik mengungkapkan ide-ide perjuangannya lewat surat kabar Sunting Melayu yang dipimpinnya. Jika Sekolah Kartini berhasil didirikan 11 tahun setelah wafatnya, maka Rohanna berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia di tahun 1912, ketika berusia 27 tahun. Sebuah prestasi yang sangat fenomenal.

Tepat pada tanggal 17 Agustus 1972 si Soenting Melayoe, Sitti Roehana Kuddus meninggal dunia dalam usia 88 tahun di Jakarta dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. 

Sampai akhir hayatnya Rohana tetap berpegang teguh pada prinsip hidupnya : “kekayaan yang abadi adalah ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun untuk orang lain serta amal ibadah”.

Jurnalis Wanita Lembata

Dalam presentasi kali ini, selain sosok Rohana Kudus, sengaja saya tampilkan nama dan gambar dilayar sejumlah tokoh jurnalis Indonesia. Antara lain, Herawati Diah, SK Trimurti, Gadis Rasyid, Hanna Rambe, Annie Bertha Simamora (Sinar Harapan), Thress Nio (Kompas), Hermien Kleden (Seorang putri Lamaholot asal Waibalun yang kini duduk di tampuk pimpinan majalah Tempo-Jakarta), Meutia Hafid, Najwa Shihab, Prita Laura.

Dan tak ketinggalan dua wartawati asal tanah Lembata. Seorang di antaranya Fince Bataona yang telah malang melintang sebagai jurnalis sejak dari Kota Karang Kupang hingga kini di Majalah Kabar NTT dan Aksi Terkini (Media Online). Bila wanita-wanita perkasa di Lamalera pagi-subuh sudah meninggalkan desa untuk “peneta” ke desa-desa di pegunungan, wanita perkasa asal desa ikan sembur ini juga tak kalah perkasa menjelajahi kota karang yang terik. Kalau perlu subuh subuh sudah tinggalkan suami dan anak-anak hanya untuk kejar narasumber’orang penting di kawasan resort. Juga seorang wartawati berdarah asal Waiwejak-Lembata kelahiran Jakarta, Anggelina Merlyana Ladjar, redaktur Majalah Marketing, Jakarta.

Ternyata penampilan wartawati asal tanah Lembata, Fince Bataona yang mengenakan sarung dalam tayangan presentasi ini menarik perhatian, tepuk tangan dan decak kagum hadirin sekaligus mengundang banyak pertanyaan tentang dirinya dan Lembata. Ini sebuah kesempatan gratis yang saya manfaatkan buat promosikan Lembata. Terutama para siswi SMK yang banyak bertanya dan sangat termotivasi untuk menjadi wartawati juga. 

Bila doeloe Ranah Minang memiliki pasangan Siti Rohana dengan Abdul Kudus gelar Pamuncak Sutan, Lembata juga memiliki pasangan ideal dengan lahan idealisme dan perjuangan yang sama, Fience Bataona dan Freddy Wahon. Saya bangga terhadap pasangan ini yang bisa berkarya langsung di Lewotana buat Lewotana.

Terima kasih Ina Fince Bataona. Tayangan gambar dirimu telah memberi motivasi positif yang kuat bagi peserta baik di Bukit Tinggi maupun di Ibukota Jakarta, termasuk jurnalis ibukota yang hadir serta anak didik saya dari SMP dan SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri di kawasan BSD-Bintaro, yang menekuni Jurnalistik dan Menulis. Terima kasih atas ijin Ina menggunakan foto Ina dalam presentasi saya ini. Semoga suatu saat dapat saya presentasikan topik ini juga di Lembata, guna memotivasi anak-anak kita yang mau menekuni dunia yang kini kita geluti bersama.

Semoga ilmu dan pengalaman Ina Fince dan Bung Freddy serta teman-teman wartawan di Lembata bisa juga ditularkan ke sekolah-sekolah yang ada di Lewoleba dan Lembata.

Sama halnya saya belum pernah jumpa Rohana Kudus, sayapun belum pernah ketemu Ina Fince. Hanya lihat lewat foto dan gambar. Semoga “pertemuan” tanpa pernah ketemu muka ini bisa mendatangkan sedikit manfaat bagi sesama.
Menutup goresan ringan ini, masih dalam semarak Hari Perempuan Internasional sekaligus Hari Ulang Tahun Ina Fince, dari kota hujan Bogor, kami sekeluarga mengucapkan Selamat Berbahagia di Hari Ulang Tahunmu. Tuhan memberkatimu selalu, Keluarga serta segala Karyamu, Amin. (*/freddy wahon)

Topik:
News: ,

2 Comments for Dari Bukit Tinggi dan Jakarta, Wartawati Pertama Indonesia Bersanding Dengan Jurnalis Wanita Lembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.