Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Dan Warga Desapun Menulis Untuk Hidup

Dan Warga Desapun Menulis Untuk Hidup

(493 Views) July 30, 2017 4:10 pm | Published by | No comment

Keningnya mengernyit. Sesekali ia menggigit hulu bolpoint. Sorot matanya tajam memandang kertas putih yang tergeletak di atas meja. Tak terhitung berapa kali ia memperbaiki letak kursinya. Dimajukan bahkan dimundurkan berulang-ulang.

“Ah ini seperti kita belajar bahasa Indonesia ulang lagi,” Petronela Kidi menggerutu.

“Sulit sekali, tetapi saya harus menulis dalam gaya eksposisi. Saya ingin mengeksposisi proses pembuatan kripik jagung titi. Ini produk yang selalu kami kerjakan  untuk menata ekonomi komunitas buruh migrant. Tetapi ketika ditulis kembali, sulitnya minta ampun,” ujar Petronela Kidi. Perempuan berusia 56 tahun itu adalah salah satu anggota komunitas buruh migrant di Desa Lamatokan.

Hingga selesai waktu yang diberikan, Petronela Kidi hanya sanggup menyelesaikan dua paragraph naskah eksposisinya. Dikatakan, di usianya sudah kepala lima ini, otaknya tidak terbiasa menulis, dan itu menjadi kesulitan terbesar baginya.

“Kelompok kami terbentuk atas kesepakatan bersama, namanya Tokan Lotapito, jumlahnya 12 orang perempuan. Kelompok kami bangun kesepakatan untuk mengelola hasil jagung kemudian menghasilkan keripik jagung. Caranya, jagung pulut dikupas, diluruh, direndam, selama satu malam. Setelah direndam jagung itu kemudian digoreng dan dititi. Hasil jagung yang sudah dititi itu dijemur, lalu digoreng lagi dengan minyak, setelah itu dicampur gula, dimasukan dalam kemasan. Harganya disesuaikan dengan kesepakatan kelompok,” demikian naskah eksposisi yang coba dituliskan.

Kidi, adalah salah seorang dari 13 peserta pelatihan jurnalisme warga bagi Pemerintah Desa dan komunitas dampingan Yayasan Kesehatan Untuk Semua (YKS), yang digelar Kamis (27/7) hingga Jumad (28/7), siang. Sekembalinya dari negeri Jiran, Malaysia, Perempuan paruh baya ini bergabung dalam komunitas buruh migrant Di Desa Lamatokan. Untuk menunjang ekonomi keluarganya, Kidi besama 12 mantan buruh migrant lainnya memilih berwirausaha kripik jagung titi.

Citizen journalism beda usia ini difasilitasi Benediktus Kia Asan. Pria kelahiran Desa Belabaja-Nagawutun ini yang pernah bergabung di sejumlah stasiun Televisi Nasional itu didapuk sebagai Fasilitator, mengajarkan staf pemerintah Desa dan Komunitas Buruh Migran di wilayah Ile Ape tentang menulis berita.

Direktur yayasan Kesehatan Untuk Semua (YKS), Mansetus Balawala menyebutkan, pelatihan Citizen Journalism menjadi kebutuhan Desa-Desa yang telah diresmikan sebagai Desa Buruh Migran (Desbumi), oleh Menteri Tenaga Kerja RI, Hanif Dhakiri, Agustus 2016 lalu. Desa-Desa Buruh Migran itu yakni Desa Dulitukan, Tagawiti, Beutaran di Kecamatan Ile Ape, dan Desa Lamawolo, Lamatokan dan Baolaliduli di Kecamatan Ile Ape Timur.

 “Desa-desa buruh Migran itu telah memiliki Websita sendiri. Sekarang kebutuhannya adalah menciptakan sumber daya di Desa yang diharapkan, mampu mengisi website dengan berita Desa atau apapun informasi yang bersifat membangun Desa dan komunitanya. Maka kita memilih pelatihan citizen journalism, selama dua hari,” ujar Mansetus Balawala, Direktur YKS, saat membuka pelatihan itu.  

Meski perkembangan era internet sudah mewabah di seantero negeri, namun bagi komunitas buruh migran yang ada di Desa, Persoalan sumber daya masih menjadi kendala utama ketika menggerakan komunitas buruh migrant untuk beradaptasi, memanfatkan social media kemudian menyuarakan kepentingan Desa atau komunitasnya.

“memang harus perlahan. Ada yang sudah mengerti, tetapi kita lakukan bertahap. Banyak yang sudah mengerti mengupload berita, tetapi yang paling penting adalah bagaimana mendesign isu. Selama dua hari peserta diajarkan bagaimana menulis jenis tulisan eksposisi, argumentasi dan narasi. Peserta juga diajarkan tentang struktur penulisan berita dan teknik wawancara,” ujar Benediktus Asan, fasilitator pelatihan citizen journalism.

Meski dalam kondisi tertatih karena belum terbiasa, para peserta bertekad untuk menulis. Mereka bertekad menulis untuk menunjukan eksistensinya. Sebab mereka tahu, ketika berpikir kemudian menulis, mereka masih hidup.

Kor Sakeng mengatakan bahwa pelatihan citizen journalism yang digelar YKS ini adalah bagian dari program penguatan Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI). Muara dari program advokasi perlindungan buruh migran adalah membangun tata sistem perlindungan mulai dari desa yang dikenal dengan nama DESBUMI, dimana sistem perlindungan ini terintegrasi dalam tata kelola pemerintahan desa. Dan, salah satu indikator dari DESBUMI adalah adanya website desa dimana salah satu kontennya adalah Berita Desa. “Dengan demikian, pelatihan citizen journalism ini adalah untuk mengisi konten dimaksud,” ungkap Sakeng, programmer officer YKS ini.

Lebih lanjut koordinator ALDIRAS ini menambahkan bahwa advokasi regulasi perlindungan buruh migran di tingkat Pemerintahan Daerah (Pemda) Lembata telah mencapai finish dimana telah lahir Peraturan Daerah (Perda) No. 20 Tahun 2015 tentang Perlindungan TKI Lembata dan Perbup Pelaksanaan Perda No 3 Tahun 2017. Sementara di tingkat desa dampingan yakni Desa Dulitukan, Tagawiti, Beutaran, Lamatokan, Lamawolo dan Bao Lali Duli telah memiliki Peraturan Desa (Perdes) tentang Perlindungan Buruh Migran dan keluarganya. “Bahkan Perda No 20/2015 ini akan menjadi salah satu laporan Pemerintah Indonesia dalam Sidang PBB di Bulan September mendatang karena satu-satunya Perda yang mengakomodir Konvensi PBB dan berbasis konteks lokal,” beber Sakeng. (San Taum)

No comment for Dan Warga Desapun Menulis Untuk Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.