Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Cerpen Yurgo Purab: Air Mata Tumbuhkan Mata Air

Cerpen Yurgo Purab: Air Mata Tumbuhkan Mata Air

(131 Views) August 27, 2018 4:10 am | Published by | No comment

Di  puncak  gunung, dekat batu hitam besar, yang menurut cerita ; seorang  putri suku tersambar petir  saat  ikut mengadakan ritual  minta hujan. Ama Kopong duduk bersila, merapal mantra kepada langit, menyirami batu hitam dengan keru baki, dan membubuhkan darah ayam pada batang bambu — yang berada di pinggir batu.  Berkali-kali ia merapal mantra, bersahut-sahutan dengan beberapa tetua adat. Dan sesekali menuangkan  tuak pada neak. Meletakannya dekat batu, dan mengucapkan lagi kata-kata keramat yang amat dalam.

“O… Engkau yang tidak  kami kenal di bumi. Yang kami sebut bapa langit  dan ibu bumi, beri kami air matamu, agar tumbuh beribu bulir jagung dan menjalar umbi-umbian di tanah. O… Kami mandikan engkau dengan rupa-rupa wewangian. Dengan tuak manisan dari pohon lontar dan siri pinang baru. O… Engkau yang tertinggi di langit, beri kami  air matamu segayung, basahi lidah anak-anak kami yang lagi haus. Dan kami mandikan engkau dengan keru baki. Sebuah perjanjian yang kekal di  batu  ini.”

Berkali-kali mereka menyerukan  kalimat itu. Bukan hanya sebagai pujian tetapi juga sebuah ungkapan permohonan; agar tumbuh hujan di bumi.  Memang, sudah dua tahun ini masyarakat di kaki gunung  itu tidak mendapatkan berkah hujan. Urat-urat tanah makin gersang. Bahkan, tampak tandus dan pecah-pecah. Pohon-pohon besar yang tumbuh di lereng-lereng gunung perlahan-lahan kering dan layu. Tampak kerontang betul. Burung-burung bertengger pada ranting  pohon yang mati. Mata mereka mengintai sumber air yang tersisa di pinggir kali. Sesekali mereka terbang membentuk huruf  V, terjun ke bawah kali. Dan terbang lagi ke atas, ke ranting yang sama. Tampak riuh mereka berdecit, suara mereka terekam jelas. Sebuah isyarat bahwa musim tak lagi bersahabat.

Dari kicauan burung tersebut, Ama Kopong dapat  membaca tanda-tanda alam dan meramalkan  makna bunyi mereka. Maklum, ia adalah seorang kepala suku,  yang puluhan tahun hidup berdampingan dengan alam. Bahkan ia terkenal jitu meramal  nasib hidup orang-orang sekampung. Karena  itu  ia sangat disegani dan dianggap sebagai titisan dewa.

Kali ini, sudah dua tahun ritual itu telah dijalankan. Namun, hujan belum juga turun. Langit masih bersih, tak ada tanda-tanda sebentar lagi akan terjadi hujan. Panas matahari menyengat tubuh puluhan tetua adat, yang berkerumun pada batu hitam tersebut. Sedangkan Ama Kopong lagi  meneguk tuak dan menyulut rokok, memberi makan pada batu. Mulutnya komat-kamit menyemburkan tuak pada batu dan meletakan  kapas pada setiap sudutnya.

“O… Engkau yang tidak  kami kenal di bumi. Yang kami sebut bapa langit  dan ibu bumi, beri kami air matamu, agar tumbuh beribu bulir jagung dan menjalar umbi-umbian di tanah….”

Masih saja mereka berujar  sambil  menepuk-nepuk dada; apa salah kami, apa dosa kami. Semakin lama seruan itu terdengar makin keras.

***

Malam telah larut, bunyi lolongan anjing terasa menegangkan. Di lango beruin, kepala suku dan para tetua adat  lagi berunding. Mereka ingin memecahkan kebuntuan alam  yang sulit di tebak ini.

“Saya rasa, saatnya kita harus membuktikan kepada penduduk  bahwa ritual ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Mungkin, dia yang tidak kita kenal menuntut sesuatu yang lebih besar”, ungkap seorang tetua adat yang duduk bersila di sudut ruangan.

“Jadi, menurutmu apa yang harus kita korbankan lagi?”, tanya kepala suku.

“Sesuatu yang lebih besar. Mungkin saja di antara kita ada yang harus menjadi korban.”

“Apa? Itu tidak mungkin ! jawab tetua adat serentak.”

“Ya, aku tahu…ada cara lain sebelum kita mengorbankan yang lebih besar ini.”

“Apa itu?”

“Kita harus mengumpulkan air mata para penduduk dan mempersembahkannya di kawah gunung tersebut. Ya, ini yang harus kita jalankan.”

“Apakah kita semua sepakat?”

“Ya, tentu saja.”

***

Pagi-pagi sekali, dentuman genderang gong bertalu panjang, sebuah isyarat  kepada masyarakat  untuk berkumpul, mendengarkan apa kata kepala suku atas nasib kampung mereka.

Saudara-saudara, sudah dua tahun kita dilanda kemarau. Dan sudah dua tahun pula kita telah menjalankan ritual meminta berkat air mata langit. Namun  tak ada jawaban.  Maka, atas restu leluhur dan kampung, kita turut ambil bagian dalam ritual besar demi kesejahteraan kita semua. Dia yang tidak kita kenal, tidak membutuhkan lagi sesajian dan darah ayam, tetapi air mata kita. Oleh karena itu, mari kita mengumpulkan air mata kita sebanyak-banyaknya agar menjadi persembahan di kawah gunung ini.

Hari ini juga, penduduk setempat mengumpulkan air mata mereka. Ada air mata gembira, ada air mata sedih, dan ada air mata keterpaksaan. Semua itu mereka lakukan demi ritual tahunan tersebut. Air mata mereka ditampung pada sebuah periuk tanah, lalu diberikan kepada kepala suku. Dan selanjutnya, akan diadakan ritual  minta hujan.

Sore, menjelang malam. Para tetua adat berarak ke puncak. Di sana air mata para penduduk dicucukan pada batu, lalu mereka merapal mantra.

“O… Engkau yang tidak kami kenal, yang bersemayam pada batu hitam. Terimalah air mata kami sebagai sembah dan bakti. O… Terimalah, O… Terimalah, O… Terimalah.”

Seruan itu terdengar makin jauh, makin mengeras. Ama Kopong menghunjukkan periuk ke langit  dan memecahkannya pada batu. Air mata penduduk  mengalir, membanjiri batu itu. Semakin keras mereka meneriakan mantra-manta yang tak asing lagi.  Beberapa menit berselang, awan hitam pekat mengobok-obok di langit. Dentuman petir meledak-ledak. Seluruh penduduk pada takut. Mereka berlari masuk ke rumah masing-masing. Langit gelap, anak-anak kecil mendekap di dada ibu. Hening. Hujan mengamuk deras, dan air mata menumbuhkan mata air dari setiap sudut kampung. Sebelum ketibaan bahagia. Mereka terhempas oleh amukan mata air yang besar, yang menghanyutkan seluruh penduduk. Kini kampung itu telah mati. Tak berpenghuni.(*)

Catatan:

*keru baki  (Bahasa  Lamaholot, digunakan di daerah Ile Ape): air berkat adat

*neak      :  tempurung dari buah kelapa

*tuak     : salah satu minuman khas di Lembata.

*Lango beruin : rumah adat.

No comment for Cerpen Yurgo Purab: Air Mata Tumbuhkan Mata Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.