Menu Click to open Menus
Home » CATATAN POJOK » Cerpen Hans Hayon “Tuhan Mati di Biara” : Kematian Adalah Cara Mengenal Allah

Cerpen Hans Hayon “Tuhan Mati di Biara” : Kematian Adalah Cara Mengenal Allah

(1251 Views) May 19, 2017 7:36 am | Published by | 2 Comments

Oleh : Yurgo Purab

 “Tuhan itu sesuatu ataukah seseorang” (Hans Hayon)

Setelah Nietzsche hadir memproklamirkan kematian Tuhan; “Tuhan sudah mati”, kini Hans Hayon hadir dengan kumpulan cerpennya “Tuhan Mati di Biara” (Nusa Indah;2016).  Dua hal yang paralel jika disandingkan. Sama-sama berbicara tentang kematian Tuhan.

Berbicara mengenai kematian merupakan sesuatu yang tak lazim. Suatu hal yang tabu, bahkan terlampau akut untuk diperbincangkan. Karena toh suatu  kelak nanti setiap orang pasti mengalami kematian.Seperti apa itu kematian? Dan, apa saja yang kita rasakan pada saat mengalami kematian? Tidak ada yang tahu. Tapi yang pasti, kematian selalu membawa soal; tentang pertanyaan dan hal-hal yang tak tuntas untuk kita selami.

Karena itu, Heidegger pernah mengungkapkan satu pernyataan terkenal yakni Sein Zum Tode. ‘Ada’ manusia adalah ‘ada’ yang menuju dan terarah ke kematian. Keterarahan menuju ke kematian itu sesuatu yang pasti. Kerinduan terdalam setiap manusia adalah bertatap muka dengan Tuhan. Dan, jalan untuk bertatap muka dengan Tuhan hanya ditempuh  lewat kematian.

Tetapi bagaimana memahami kematian Tuhan ? Kumpulan cerpen Hans Hayon ini yang akan menjawabnya.  Hans berusaha menguak kematian yang sulit menguap dalam pembicaraan massal. Ia tak segan-segan berbicara mengenai kematian. Hal ini tampak jelas dalam uraian cerpen-cerpennya.

Pada cerpen Hostia, kita diarahkan untuk menatap kematian sebagai sebuah perjumpaan antara Hostia (lambang tubuh Kristus) dalam lambung seorang pribadi, imam. Perjumpaan ini berakhir dengan sebuah kerinduan, yakni kematian. Tampak jelas gambaran kematian yang diungkapkan oleh Hans pada akhir cerpen Hostia. “Sayup-sayup kudengar suara imam bergumam di luar tubuhnya yang mungkin telah kaku dan menghitam. Requescat in pace.

Seluruh bangunan tubuh cerpen karya Hans, mengutip P. Paul Budi Kleden dalam pengantar buku tersebut yakni penuh dengan analogi dan metafora yang amat kaya. Tak hanya itu. Karya-karya Hans selalu bergerak dari lokalitas budaya setempat.

Ada beberapa cerpen yang ditampilkannya mengambil latar budaya serta menyertakan kematian sebagai tempuling indah dalam mengemas setiap adegan cerita. Ini yang menarik. Bahwa Hans tidak hanya berkutat pada religiusitas semata, tetapi juga menyertakan pengamatannya terhadap realitas budaya serta persoalan-persoalan yang mengintarinya.

Cerpen Bidadari Keroko Puken dan Kewisek, yang mengambil latar budaya, dan kematian sebagai titik  persoalan yang sulit diterjemahkan oleh akal sehat manusia. Pada cerpen Bidadari Keroko Puken, Hans menjelaskan kematian sebagai karma karena melanggar sebuah perjanjian, yakni memotong keroko puken –sejenis tumbuh-tumbuhan yang memiliki batang berwarna putih dan mengandung getah.

Hans tidak hanya menyimpan keunikan dalam batang tubuh cerpennya tetapi juga pada ending dari setiap cerita yang dibuatnya gantung.

Selain itu, ia juga sangat mahir menyimpan pesan di setiap judul cerita. Seperti yang tampak pada beberapa judul cerpen dalam buku setebal 178 halaman tersebut. Rani (nuRani), Hostia, Tuhan Mati di Biara, Aroma Kopi dan Sesilia, Grace, Kinasih dan sebagainya.

Pada cerpen “Tuhan Mati di Biara”, kita menemukan banyak pesan yang menguat di sana. Ada semacam lecutan ide baru yang tak dapat ditebak begitu saja. Hans berhasil membuat pembaca mengembara dalam  imajinya sendiri. Ia menyuguhkan cerita yang menarik serentak menggugat keberimanan kita. Ia menyulam setiap adegan cerita dengan kemasan metafora yang terpilin, sehingga pembaca tidak hanya diantar pada pergumulan batin tetapi menikmati arus kata-kata yang hanyut dalam setiap adegan.

Gugatan terhadap ketidakhadiran Tuhan atas peristiwa kejatuhan manusia adalah sebuah pertanyaan yang mengurat-akar dalam benak seorang manusia. Hal ini nampak dalam beberapa cerpen yang disuguhkan oleh Hans dalam karya perdananya ini.

“Tuhan Mati di Biara” adalah kisah cinta mantan biarawati kepada seorang imam Katolik. Ini hal yang tak biasa,  seperti kalimat yang digambarkan Hans : “cinta yang diharamkan oleh agama, tradisi, masyarakat dan mungkin Tuhan juga.”

Pada titik tertentu pertanyaan ini juga menjadi gejolak dalam batin setiap manusia, termasuk Grace, tokoh dalam cerita tersebut.

Lebih lanjut Hans menulis “Apakah mencintai itu sebuah dosa? Yang lebih tua itu cinta ataukah agama? Tuhan itu sesuatu atau sesorang?” Kenekatan Grace dalam mencintai adalah pertanyaan kehilangan. Mencintai berarti kehilangan. Dan, inilah yang mau digambarkan Hans bahwa Grace hilang entah kemana, tak ada yang tahu. Hingga pada suatu titik tertentu, sidang itu menjerat imam terkait kematian Grace.

Akhir cerita, Hans menyuguhkan ending gantung terhadap pertanyaan seorang anak kecil yang melihat  seorang ibu yang sedang menangis. “Tinny, dengan siapa kamu bicara?”/ “Dengan ibu ini, Ayah” jawab gadis kecil itu sambil menggandeng tanganku./ “Ibu? Tidak ada siapa-siapa di sini, Nak. Ayo Pulang!

Hampir semua cerpen Hans berbicara mengenai kematian. Hans mempertanyakan banyak hal mulai dari karma kematian dalam adat istiadat hingga pada perkara iman yang menyentuh religiusitas. Kematian Grace, terbersit pertanyaan kepada Tuhan. Dimanakah Engkau ya Tuhan, ketika kegelisahan dan kejatuhan menghampiri manusia?

Di sinilah Hans menguak kematian dalam biara sebagai absennya Tuhan dalam hidup manusia. Jika demikian,  benarkah Tuhan memang mati di Biara? Kalau Tuhan mati di biara, siapa yang menyalibkannya? Apakah para pemimpin agama semisal Imam, kita ataukah  cinta yang terlarang itu?  (*)

2 Comments for Cerpen Hans Hayon “Tuhan Mati di Biara” : Kematian Adalah Cara Mengenal Allah

  • beatrix tapoona says:

    Luar biasa….ulasan dari buku yang menarik dan relevan dengan keadaan dunia dan Indonesia dewasa ini. Bagi saya pribadi malah kadang bertanya Tuhan sering dsamakan dengan Agama, bahkan manusia yang berjuang mati2an membela Tuhannya atau Agamanya dengan cara2 yang menakutkan membuat saya kadang berpikir…”kalau boleh, saya tidak memilih mempunyai Agama”….gilaaaaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.