Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Catatan Jurnalistik Fince Bataona: Monolog Tubuh Yang Palsu dan Banyak Kebetulan Yang Sama

Catatan Jurnalistik Fince Bataona: Monolog Tubuh Yang Palsu dan Banyak Kebetulan Yang Sama

(1268 Views) April 25, 2016 1:46 pm | Published by | No comment
abdy-broin2

Aksi panggung Broin Tolok dan Abdi Keraf di jetty

Teater monolog Tubuh Yang Palsu dan Perempuan Biasa telah berakhir. Luar biasa memikat, mendebarkan. Sedikit memaksa nalar berpikir keras untuk mencerna setiap kata-kata dalam dialog  dan adegan yang diperankan actor Abdy Keraf (Tubuh Yang Palsu) dan Linda Tagie (Perempuan Biasa). Seolah terhipnotis, penonton bahkan tidak menyadari bahwa monolog sudah selesai, Abdy Keraf sudah pamit dan saatnya penonton memberi aplaus. Hal yang sama terjadi pada Perempuan Biasa yang menjadi pembuka pentas monolog.

“Tubuh Yang Palsu” di Lembata. Dari ‘judulnya’ saja, orang  bisa menjadi tidak nyaman menonton dalam gedung. Datang dengan karcis, dilihat tiket nontonnya, lalu dipersilahkan masuk. Duduk dalam terang benderang cahaya lampu dan bisa dilihat, dikenali siapapun, bisa menjadi alasan —meski juga bukan satu-satunya alasan—orang enggan ke aula Damian, Jumat (22/4/2016) malam. Banyak kursi yang kosong padahal karcis yang terjual sama banyaknya dengan kursi yang disiapkan. Semacam ketakutan dimata-matai dan dianggap berposisi dimana seseorang, apalagi ASN jika menonton monolog ini.

lany koroh

Perempuan biasa, Lany Koroh

“Tubuh Yang Palsu”. Dari judulnya, kebetulan. Sekali lagi ini cuma kebetulan saja, masyarakat Lembata sedang hangat-hangatnya memperbincangkan soal “yang palsu”. Dari dokumen milik DPRD Lembata yang menurut Bupati Lembata dipalsukan. Karena menurutnya dokumen DPRD itu palsu, Bupati lalu melaporkan dua anggota DPRD Lembata, Bediona Philipus dan Fransiskus Limawai ke Polres Lembata. Proses hukum yang panjang selama satu tahun lebih lamanya itu, seperti diketahui memvonis Bediona dan Limawai bersalah. Banding diajukan dan sedang dalam proses saat teater monolog “Tubuh Yang Palsu” di pentaskan keliling NTT saat ini.

“Tubuh Yang Palsu”. Dari judulnya, kebetulan. Sekali lagi ini cuma kebetulan saja, lagi-lagi masyarakat Lembata sedang bertanya, apakah ijasah Bupati Lembata, Elyazer Yentji Sunur memang palsu seperti yang diadukan FP2L ke Mabes Polri dan saat ini sedang ditangani Polda NTT?

abdy-broin

Aksi panggung Abdy Keraf dan Broin Tolok

“Tubuh Yang Palsu”. Dari judulnya, kebetulan. Masih soal dugaan ijasah palsu Bupati Lembata. Hari ini, Selasa (26/4/2016), Pansus yang dibentuk untuk menyelidiki dugaan ijasah palsu tersebut melaporkan hasil kerja mereka. Entah apa hasilnya, saat menulis ini, hari belum Selasa dan pentas teater monolog Tubuh Yang Palsu dan Perempuan Biasa di dua tempat aula Damian dan Pelabuhan Jetty sudah pula berakhir.

Tubuh Yang Palsu, yang disutradarai Ragil Sukriwil dan Perempuan Biasa oleh Lany Koroh yang didukung kerja sama mereka dengan SOLMET (Sastra Comunity of Lembata dan Mentari Lomblen) ini, sukses membawa pesan. Banyak harapan disampaikan dalam sesi dialog usai pentas yang dipandu Kor Sakeng.

Lembata, kata salah seorang penonton, harus dibebaskan dari cara berpikir yang penuh kepalsuan dan mengabaikan nurani. Harapan lainnya disampaikan seorang siswa SMU. Kata dia, seni teater semacam ini, seharusnya bisa dipentaskan di sekolah-sekolah agar bisa membuka kesadaran berpikir tentang realita sosial di masyarakat dan terutama juga merangsang minat siswa untuk mencintai seni.

Sementara Pater Stef Tupen Witin, SVD menekankan monolog Tubuh Yang Palsu dan Perempuan Biasa memberi pesan agar kita semua berani menyingkirkan kepalsuan. Berjuang hidup sebagai orang biasa dan tidak bernafsu mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. “Berjuang menghentikan semua kepalsuan,” ujar Pater Stef, pemimpin redaksi Harian Flores Pos.

Jika aula Damian tidak penuh penonton, berbeda dengan pentas Sabtu (23/4) malam di Jetty Lewoleba, penonton berjubel, warga dari usia anak-anak sampai yang tua, meringsek mendekat ke arena pentas alam terbuka di atas pasir. Salah satu sisi dari area pelabuhan. Panggung rakyat, tepatnya.

Ragil Sukriwil

Ragil Sukriwil

Di Jetty inilah, Tubuh Yang Palsu ditampilkan dalam versi yang berbeda. Abdy Keraf berkolaborasi dengan Broin Tolok, sukses membuat penonton tertawa, tertegun diam menyaksikan adegan demi adegan dan dialog yang syarat menampilkan fakta tentang  banyak hal di masyarakat. Dari suap, kepalsuan hidup hingga pesan moral untuk anak-anak agar rajin belajar dan sekolah disampaikan Abdy dan Broin dengan apik.

Seperti di aula Damian, pentas teater monolog Tubuh Yang Palsu di jetty, kawasan pelabuhan Lewoleba,  juga diisi dengan puisi oleh Lany Koroh, Monika Arundhati, Yustinus Nihan, Ragil Sukriwil, Abdy Keraf dan si cilik Olivia Ladjar. Juga, dance dari beberapa kelompok remaja di Lewoleba.

 

Peta Teater

Tidak sekedar unjuk kebolehan berteater, kata Abdi Keraf berkali-kali. Dengan berkeliling NTT saat ini  bersama Coloteme Arts Movement, Abdi menegaskan mereka mengemban misi NTT menjadi peta teater di Indonesia. Karena itu, di hampir semua kabupaten tempat pentas, mereka juga membuka jejaring komunitas dan bertemu dengan komunitas seni yang sudah ada di kabupaten. Abdi menilai respon masyarakat NTT terhadap seni teater cukup positif, meskipun beberapa kabupaten, pemerintahnya tidak memberi dukungan.

“Saya tidak ada urusan dengan politik di Lembata. Kalau mau maju, saya ke NTT 1 saja, bukan ke kabupaten,” selorohnya disambut tawa penonton. 

Melalui pentas seni teater ini, kata Abdi, mereka berharap bisa membangkitkan spirit generasi muda Lembata untuk mencintai seni. Menjadikan seni sebagai ruang untuk mengapresiasi setiap problem atau persoalan-persoalan yang terjadi dalam realita kehidupan sehari-hari.

Tentang Tubuh Yang Palsu, Abdi menjelaskan, pengalaman hidup sering penuh dengan kepalsuan. Di luar baik, namun di dalamnya palsu. Orang sibuk mempercantik diri namun secara lahiriah tidak cantik. Memberikan senyum tapi dalam hati masih menyimpan benci dan dendam, ibarat buah kedondong, kulit licin dalamnya berduri, bicara di depan banyak orang dengan manis-manis mengumbar janji tapi realita kosong. Ini yang dinamakan palsu.

Ragil Sukriwul, menjelaskan pementasan teater Tubuh Yang Palsu ini adalah murni seni, dan sudah digagas sejak Januari 2016.

“Pementasan teater ini adalah murni seni. Kami sudah siapkan dari bulan Januari. Dan, kami sudah pentas di beberapa kota, dengan tema yang sama ini. Kita sudah pentas di Maumere, Larantuka. Dan sekarang kita pentas di Lewoleba dalam Event Tour The Florestaku,” ujarnya.

Entah kebetulan. Tapi yang pasti Tubuh Yang Palsu dan Perempuan Biasa tepat merekam fakta di Lembata. Tepat mengungkap banyaknya kepalsuan. Kebetulan yang sama! Mudah-mudahan menggugah nurani kita untuk berjuang menjadi manusia yang selalu menyatukan apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan, biar tidak palsu.(*)

Topik:
News:

No comment for Catatan Jurnalistik Fince Bataona: Monolog Tubuh Yang Palsu dan Banyak Kebetulan Yang Sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *