Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Catatan Fransiskus Roi Lewar : Industrialisasi Perikanan di Flores Timur

Catatan Fransiskus Roi Lewar : Industrialisasi Perikanan di Flores Timur

(646 Views) September 19, 2017 1:21 pm | Published by | 1 Comment

Perikanan adalah sebuah kegiatan ekonomi. Ada perikanan tangkap dan ada perikanan budidaya. Di Perikanan tangkap ada minimal dua jenis ikan, yakni ikan pelagis yang selalu bermigrasi seperti tuna, cakalang, tenggiri, layang, kembung, tembang/lemuru, barakuda dan lain-lain. Dan, ikan dasar seperti kakap, kerapu, berakang, beduma, lorang, aleu dan lain-lain. Perikanan budidaya seperti rumput laut, tambak (udang, bandeng), mutiara dan lain-lain.

Sejak tahun 1989, dengan dibangunnya pabrik ikan oleh PT Bali Raya dan kedatangan kapal-kapal tangkap oleh PT Nelayan Bhakti di Flores Timur, maka terjadi perubahan pola hidup di sektor perikanan. Masyarakat Larantuka khususnya, dan Flotim umumnya, yang sebelumnya tidak banyak hidup dari laut, sekarang banyak menggantungkan hidup mereka dari sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya.

Di sekitar Kota Larantuka saja, sekarang muncul desa-desa nelayan sperti Waibalun, Lewolere, Balela, Postoh, Kampung Baru, Amagarapati (Lewerang), Pohon Bao, Gege, Lebao, dan Kota (Sao dan Rowido). Artinya, industrialisasi bisa merubah pola hidup. Saat ini kurang lebih ada 7 cold storage dan 2 pabrik es di Larantuka milik dari beberapa perusahan seperti Okosin, Primaindo, Mitra Timur Raya dan lain-lain. Pengetahuan dan ketrampilan nelayan kita pun bertambah. Tadinya nelayan kita diajari oleh nelayan-nelayan dari Baubau, Sulawesi Tenggara, bagaimana menangkap ikan cakalang. Sekarang nelayan di Flotim sudah mahir menangkap cakalang. Malah nelayan di Waibalun sudah punya cara mengkap ikan tuna dengan cara menahan laju ikan lumba-lumba karena lumba-lumba adalah pelindung tuna dari predator seperti ikan hiu. Dengan begitu maka tuna pun akan berkurang lajunya, sehingga semakin besar peluang untuk memancing tuna.

Keberadaan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Amagarapati adalah asset nasional yang lokusnya di Flotim. Pemilihan tempatnya di Flotim, anggarannya sekitar Rp 100 Milyar lebih dan pembangunan fisiknya pun langsung dilakukan oleh pemerintah Jepang, karena saat dulu hingga sekarang, Jepang adalah market leader dunia perikanan, maka bisa dikatakan secara fisik di kelasnya PPI Amagarapati terbaik di Indonesia Timur. Sesuai UU Kelautan (Perikanan Tangkap, Pengelolahan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) didalamnya diatur kewenangan pemerintah pusat (Kementrian Kelautan dan Perikanan/KKP) dan Pemerintah Kabupaten/Kota maka tentunya pengembangan PPI Amagarapati membutuhkan sinergisitas antara Pemkab Flotim dan KKP. Tentu saja, sesuai azas dekonsentrasi maka Dinas Perikanan NTT adalah perpanjangan tangan KKP.

Ada empat (4) klasifikasi pelabuhan perikanan, yaitu PPI, Pelabuhan Perikanan Pantai, Pelabuhan Nusantara dan Pelabuhan Samudera. Untuk itu, sesuai masterplan, regulasi, kewenangan dan anggaran maka pengembangan PPI Amagarapati menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai dan kemudian menjadi Pelabuhan Nusantara dapat menjadi visi misi Bupati Flores Timur dalam RPJMD. Saya memberi nama dengan tagline “Menjadikan Laut sebagai Halaman Depan Flores Timur”.

Presiden Jokowi saat kunjungan ke Natuna beberapa bulan lalu mengatakan bahwa pemerintah pusat akan membangun sentra-sentra perikanan di wilayah perbatasan. Beliau secara khusus menyebut Natuna, Sabang, Merauke, Sorong dan LARANTUKA. Menteri Susi sudah datang ke PPI Amagarapati, Dirjen Perikanan juga sudah mengunjungi PPI Amagarapati. Malah ibu Susi dan pak Dirjen secara khusus memuji bahwa pabrik ikan yang ada di PPI Amagarapati milik Mitra Timur Raya adalah pabrik ikan yang paling bersih yang beliau kunjungi.

Pembangunan Perikanan bisa menjadi leading sektor menuju industrialisasi pembangunan di Flotim. Sebab secara wilayah geogafis dan potensi laut serta keberadaan PPI Amgarapati menjadi modal dasar untuk pencapaian industrialisasi tersebut. Dari data yang ada 16% ikan tuna untuk ekspor keluar dari Larantuka/Flotim. KKP juga punya SatKer yang mengcover wilayah perikanan dari Kabupaten Alor hingga Manggarai Barat yang berkantor di Larantuka.

Dari sisi pengawasan perikanan (terkait pengeboman ikan, pencurian ikan) lewat armada kapal patroli maka sebenarnya Stasiun Pengawasan itu ada di PPI Amagarapati, tetapi sekarang dipindahkan ke Tenau Kupang.

Sudah cukup lama, kurang lebih 10 tahun sejak PPI Amagarapati dibangun, belum dimaksimalkan peruntukannya. Layaknya sebuah pelabuhan perikanan maka pembangunan fasilitas penunjang seperti unit pengelolahan ikan (UPI), coldstorage, pabrik es, karantina, kawasan bongkar muat, kawasan berlabuh kapal, perbaikan dan maintenance, SPBU dan lain-lain, seharusnya menjadi satu kesatuan wilayah pelabuhan. Salah satu kendalanya adalah kecukupan lahan untuk mem-back up fasiltas-fasilitas terkait kelayakan dan fungsional sebuah pelabuhan perikanan tersebut.

Pilihan rasioanalnya adalah melakukan reklamasi. Reklamasi dilakukan ke arah barat dan timur dari PPI, mulai dari perbatasann pelabuhan Pelni di Postoh hingga belakang Pasar Baru di Pohon Bao. Soal kewenangan memberikan ijin reklamasi diberikan oleh Dinas Perikanan NTT tentu lewat sebuah studi kelayakan terkait dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRW). Anggarannya diambil dari pos anggaran APBN Kementerian Kelautan dan Perikanan, bisa dilakukan lewat mekanisme multy years. Tentunya, Dinas Perikanan Provinsi NTT akan siap membantu pemkab Flotim, baik pembuatan proposal, study kelayakan, pemaparan proposal ke KKP.

Perlu juga didorong pembuatan Perda Zonasi oleh pemkab Flotim dan DPRD Flotim terkait perlindungan pengelolahan pesisir dan biota laut sebagai satu kesatuan dalam tata kelola kelautan dan perikanan. Kalau di Indonesia Barat curah hujan tinggi dan daerah pertaniannya subur, maka sekalipun curah hujan kita rendah tapi Tuhan sudah menganugerahkan kita di NTT dan Flotim khususnya, dengan Laut yang Subur. Laut kita memiliki jutaan plankton, dan biota laut yang lengkap. Mereka diberi nutrisi oleh arus laut yang spesifik dari Laut Sawu dan Laut Flores serta keberadaan gunung-gunung berapi yang menghasilkan fosfor/belerang yang menjadi nutrisi dari plankton, ikan dan biota laut. Ambil contoh dari Heras sampai dengan Lewotobi begitu banyak teluk-teluk yang secara alami adalah tempat hidup dari ikan-ikan dasar.

Tentu, dengan Perda Zonasi, akan lebih baik areal sekitar itu kita kembangkan perikanan budidaya berupa pembuatan keramba daripada mengijinkan perusahan budidaya mutiara yang tidak terlalu menguntungkan nelayan pesisir. Karena kerang mutiara adalah pemakan plankton terbesar. Tidak heran daerah kita diminati oleh perusahan-perusahaan pengelola mutiara.

Perlu juga didirikan lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang) sektor perikanan di Larantuka, apalagi mau dibangun SMK Perikanan di Ipitudeng, kecamatan Demonpagong dan juga jurusan perikanan di IKTL Waibalun. Keusukupan Larantuka perlu didorong untuk mendirikan lembaga pendidikan Ambachtschool sektor perikanan seperti ambachtschool pertukangan dahulu dengan model asrama yang spartan.

Diharapkan dengan adanya industrialisasi perikanan maka tentu akan menyerap banyak tenaga kerja. Akan terjadi multy play effect dan triple down effect. Dan, ujungnya pendapatan serta kesejahteraan masyakat Flotim pun pasti meningkat.

Kami sebagai masyarakat diaspora Flotim di Jakarta yang bergerak di bidang perikanan lewat jaringan baik itu di KKP, DPR dan dunia usaha siap membantu pemkab Flotim terkait industrialisasi perikanan di Flotim. Tabe. (*)

1 Comment for Catatan Fransiskus Roi Lewar : Industrialisasi Perikanan di Flores Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.