Menu Click to open Menus
Home » CATATAN POJOK » Catatan Dari Lomba Lukis Budaya dan Kesucian: Transformasi Nilai Yang Pincang !

Catatan Dari Lomba Lukis Budaya dan Kesucian: Transformasi Nilai Yang Pincang !

(371 Views) June 13, 2018 5:30 pm | Published by | No comment

Saya memang anak seorang seniman: pelukis dan pematung. Saya dibesarkan dan disekolahkan dari hasil karya seni ayah saya. Tapi, saya bukanlah seorang seniman. Bukan perupa ataupun pelukis. Saya hanya suka menulis.

Begitulah komentar istri saya, Fince Bataona, ketika saya menyampaikan bahwa ada undangan dari Taman Daun untuk menjadi salah satu juri pada lomba lukis bertajuk: Budaya dan Kesucian, di Taman Daun, kawasan Bluwa, Lewoleba, Lembata, Selasa (12/6/2018).

Tapi, begitu diminta berdialog dengan para pelukis setelah mempresentasikan karya lukisnya, penulis Novel Lamafa ini langsung berapi-api. “Saya diminta menjadi juri untuk melihat sisi budaya. Kalau segi estetika, juri yang lain ini ahlinya,” ungkapnya, mengawali dialognya dengan para pelukis.

Dua juri lainnya memang pegiat seni. Pertama, Bar Tokan atau dikenal juga dengan nama Bar Khasogie, adalah seorang pelukis muda berbakat. Dia sudah beberapa kali menjuarai lomba melukis di Lembata.

Lelaki pendiam kelahiran Adonara, 30 Desember 1986, dengan nama lengkap Bartolomeus Tokan ini memang memiiki segudang prestasi di bidang seni lukis. Sejak SMP, dia sudah mendulang prestasi. Tahun 2002 saja, dia menyabet empat gelar. Yakni,  juara kehormatan Pornipas Lembata, Juara I Lomba Lukis Antar SMP dalam rangka memeriahkan Hardiknas, Juara I Lomba Lukis Antar Sekolah untuk memeriahkan HUT Lembata, dan masuk 10 besar lomba poster se-Indonesia tentang pendidikan dan kemiskinan dari BKKBN dan UNFA PBB.

Dua kali lomba Mural di Lembata yang digelar Badan Kesbangpol, tahun 2016 dan 2018, Bar Khasogie menjadi juara pertama.

Tahun 2008 hingga 2010, Bar bekerja sebagai pelukis kanvas di Galery Direct Bali Painting. Tahun 2009, dia sempat menjadi peserta Pameran Lukisan dari Kompas di Bali, dan menjadi satu-satunya pelukis dari NTT dengan tema lukisan : Tempuling and Whale. Tiga tahun berturut-turut, 2013, 2014 dan 2015, dia mengikuti Event Tatto, Tatto Artist se-NTT di Kupang. Dia juga mengikuti Event Tatto Sosial di Kalabahi Alor bersama komunitas photography Alor dan Kupang. Siapa lagi yang meragukan kapasitas pelaku seni rupa dan kerajinan, serta tattoo artist ini?

Juri kedua, adalah Aldino Purwanto Bediona. Dia seorang pegiat multimedia, tutor prakarya di SMPK Santo Pius X Lewoleba, dan beberapa kali menjadi juri lomba seni visual di tanah Jawa.

Latar belakang pendidikannya memang oke. Lulusan desain komunikasi visual ini memang paham betul tentang pesan-pesan yang harus disampaikan melalui seni visual, termasuk lukisan. Kendati lebih gandrung mendalami teknologi multi media, Aldino Bediona masih mau berbagi pengalaman menumpahkan gagasan melalui seni lukis.

Dan, juri terakhir, Agustinus Dasion Dia bukan pekerja seni. Pun, bukan seniman. Tapi, dia punya pengalaman dan pemahaman yang baik tentang artefak budaya di Lembata. Pemuda kelahiran Lamalera ini sesungguhnya adalah seorang pegiat budaya Lembata.

Forum penilaian lomba seni lukis berubah tegang, tatkala Fince, ibunda empat anak saya, menohok soal tempat makan di Koke, dalam lukisan bertajuk: Pesta Kacang  Lewohala, karya Viky Lein. Kendati pelukisnya bilang bahwa tempat makannya adalah keleka yang terbuat dari anyaman daun lontar, Fince tetap ngotot.

Memang, lelaki Lewohala dalam ritual adat di Koke, tidak makan di atas pene, piring gerabah yang terbuat dari anah liat. Juga, tak boleh ada periuk atau mangkuk tanah liat di atas Koke. Pene, hanya boleh digunakan perempuan. Itu pun tidak di Koke.

Pelukis realitas harus memotret pesta kacang Lewohala secara utuh. Tak boleh ada yang keliru. Karena bisa merubah substansi, persepsi dan perpektif adat istiadat Lewohala.

Begitu pula, lukisan leva nua, tradisi mengambil kiriman ikan paus dari leluhur. Enam dari 10 lukisan yang diperlombakan, menampilkan budaya leva nua. Ini budaya turun temurun yang sudah berabad-abad lamanya. Delos, seorang peserta lomba, menyebut, orang Lamalera terikat pada laut, adat dan agama. Ya, laut bagi orang Lamalera adalah ladang kehidupannya.

Fince dan kawan-kawan jurinya yang lain melihat adanya kesenjangan antara lukisan dengan fakta budaya yang sesungguhnya. Misalkan, lukisan peledang tidak sebagaimana seharusnya. Atau, lamafa tuba koteklema tapi layar pledang masih terbentang.

Andaikan saja, 10 pelukis itu mewakili generasinya, usia pasca SLTA atau pasca wisuda strata satu, maka boleh dikata bahwa proses transformasi nilai-nilai budaya masih jadi soal di tanah Lepan Batan. Muatan lokal pada jenjang pendidikan formal patut dipertanyakan. Pun, ide besar untuk menjadikan Lembata sebagai salah satu destinasi wisata dunia yang dikampanyekan pemerintahan yang sedang berkuasa, perlu disegarkan kembali.

Atraksi tarian leva yang dipentaskan dimana-mana, baik di Kota Kupang ataupun di kota-kota lainnya, termasuk di Lewoleba sendiri selalu mengundang decak kagum penonton. Tapi, kalau nilai-nilai budaya dalam tradisi leva tidak dipahami secara benar, maka akan sia-sialah semuanya.

Begitu pula, dengan kesakralan gading sebagai belis wanita yang dipinang, muali mengalami kemerosotan nilai kulturalnya. “Gading lebih dilihat nilai ekonomisnya daripada kesakralan nilai budayanya,” tandas No Kraeng, pelukis bertajuk kemerosotan nilai budaya gading.

Lomba lukis bertajuk budaya dan kesucian yang digelar Taman Daun dapat dipandang sebagai arena investigasi pengetahuan dan pemahaman generasi muda terhdap nilai-nilai budaya. Dan, kita harus berani jujur bahwa telah terjadi transformasi nilai budaya yang pincang di daerah ini.

Dan, jika para pemangku adat istiadat pun mulai terusik, masih mampukah kita mempertahankan tradisi nenek moyang? Budaya lamaholot Lepan Batan maupun Edang telah meletakan kesucian di atas segala-galanya. Nilai kejujuran, ketulusan/keikhlasan dan kesetiaan sangat dijunjung tinggi dalam budaya kita.

Mimpi besar untuk menjadikan Lembata sebagai Kabupaten Literasi, sekaligus sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya, hendaknya disertai langkah-langkah strategis untuk melindungi nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat kita. Sudahkah pemerintah kita memikirkan untuk memetakan secara tepat wilayah atau zona-zona budaya? Pun, sudahkah dilakukan studi pemetaan wilayah adat?

Tampaknya, para elit belum merasa penting. Padahal, realitas memperlihatkan bahwa ada persoalan serius menyangkut transformasi nilai budaya kepada generasi muda. Ya, kita sudah harus melihat masalah ini dengan sungguh-sungguh. Semoga! (freddy wahon)

No comment for Catatan Dari Lomba Lukis Budaya dan Kesucian: Transformasi Nilai Yang Pincang !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.