Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Biopestisida Dan Pertanian Berkelanjutan

Biopestisida Dan Pertanian Berkelanjutan

(185 Views) January 27, 2018 1:28 pm | Published by | No comment

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Alumnus Universitas Flores

Usaha pertanian adalah meningkatkan produktivitas dan menekan kehilangan produksi sehingga tidak mecapai ambang batas. Pertanian kita menghadapi masalah yang destruktif akibat banyaknya hama dan penyakit, seperti disebabkan oleh jamur, gulma dan serangga sejak jaman dahulu yang berdampak pada penurunan hasil produksi pertanian. Munculnya pestisida kimiawi, krisis ini untuk sementara waktu bahwa sebagian masalah dapat diselesaikan. Tetapi dampak lain dari ketergantungan pada pestisida kimia adalah masalah lingkungan dan menyebabkan kesehatan bagi manusia menjadi hal yang serius. Masalah serius adalah mengenai pengendalian hama.

Pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mengusir, menghindari atau membunuh spesies hama agar populasinya tidak mencapai ambang batas yang secara ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan untuk menghilangkan spesies  hama sampai tuntas, melainkan hanya menekan populasinya sampai pada aras tertentu yang secara ekonomi tidak merugikan. Oleh karena itu teknik pengendalian hama apapun yang diterapkan dalam pengendalian hama harus tetap mempertanggungjawabkan secara ekomoni dan secara ekologi. Dan salah satu metode yang baik adalah dengan menggunakan biopestisida.

Biopestisida atau pestisida biologis bahan utamanya berasal dari bahan-bahan alami seperti hewan, tumbuhan dan bakteri. Biopestisida adalah mikroorganisme, atau produk yang dihasilkan oleh mikroorganisme, tumbuhan atau mahluk hidup lainnya yang menunjukkan aktivitas biologis terhadap hama dan patogen tumbuhan dan dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tumbuhan. Biopestisida berdasarkan target terdiri dari : Biofungisida yaitu mengendalikan penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh jamur patogen ;  Bioinsektisida yaitu untuk mengendalikan serangga hama pada tumbuhan;  Bioherbisida yaitu untuk mengendalikan gulma (tumbuhan pengganggu).

Sebagai contoh mengenai biopestisida seperti bawang putih, tanaman mint, pohon mimba, trembesi, tanaman pepaya dan tanaman lainnya memiliki peranan sebagai pestisida hayati : Biopestisida yang paling umum digunakan adalah organisme hidup (bakteri, virus dan jamur) yang bersifat patogen bagi hama. Ini termasuk biofungisida (Trichoderma), bioinsektisida (Bacillus thuringiensis) dan bioherbisida (Phytopthora).

Biopestisida dapat memberikan kontribusi penting untuk pertanian berkelanjutan dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, diantaranya yaitu: Pertaman, Biopestisida tidak berbahaya bagi lingkungan. Biopestisida umumnya menargetkan satu hama tertentu atau sejumlah kecil hama yang terkait, berbeda dengan pestisida kimia mempengaruhi spektrum yang lebih luas bukan hanya pada hama dan serangga bahkan pada organisme yang bermanfaat lainnya seperti burung dan mamalia. Biopestisida lebih efektif dalam jumlah yang lebih kecil dan terurai dengan cepat, dengan demikian tidak menyebabkan masalah lingkungan yang terkait dengan pestisida kimia.

Ketika digunakan dalam program manajemen pengendalian hama terpadu (PHT) diharapkan biopestisida berperan untuk mengurangi penggunaan pestisida konvensional (kimiawi), sedangkan hasil panen pertanian masih tetap tinggi.

Kedua, Biofungisida menggunakan Trichoderma secara ekonomi lebih murah. Trichoderma merupakan jamur yang hadir dalam hampir di tanah dan habitat yang beragam lainnya. Trichoderma menyerang parasit jamur lainnya. Sejauh ini bahwa Trichoderma berhasil mengendalikan jamur tanaman yang bersifat patogen. Biopestisida Trichoderma secara teknis dan ekonomi lebih murah dan hanya membutuhkan pengetahuan dasar dari mikrobiologi.

Ketiga, Bioherbisida dengan jamur patogenic lebih murah secara ekonomi. Kontrol biologis terhadap tumbuhan gulma sengaja untuk menggunakan musuh alami dalam mengendalikan pertumbuhannya. Ke empat, Bioinsektisida menggunakan bakteri dan jamur secara ekologi ramah lingkungan. Bacillus thuringiensis (BT) menghasilkan toksin protein yang dirilis dalam usus serangga setelah tertelan. Sekali di dalam usus, toksin menginduksi kelumpuhan midgut. Hal ini pada akhirnya menyebabkan kematian serangga. Pengendalian hama dengan bioinsektisida dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia dan secara ekologi lebih ramah lingkungan.

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Hama yang dimaksud di sini sangat luas, yaitu serangga, tungau, pengganggu tumbuhan, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteri dan virus, kemudian berbagai nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan pertanian. Pestisida sintetis (kimia) merupakan pestisida yang bahan aktif dan formulanya terbuat dari bahan kimia, sangat efektif dalam mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) namun meninggalkan residu yang sangat berbahaya bagi manusia (konsumen) dan lingkungan sekitar (ekosistem). Biopestisida (pestisida biologi)merupakan mikroorganisme, atau produk yang dihasilkan oleh mikroorganisme, tumbuhan atau mahluk hidup lainnya yang menunjukkan aktivitas biologis terhadap hama dan patogen tumbuhan dan bisa digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tumbuhan. Dari kedua penjelasan tersebut, perbedaan penggunaan pestisida sintetis dan biopestisida, yaitu : Biopestisida dihasilkan oleh mikroorganisme, tumbuhan atau mahluk hidup lainnya. Sedangkan Pestisida sintetis (Kimia) merupakan pestisida yang bahan aktif dan formulanya terbuat dari bahan kimia.

Dampak masalah kesehatan dan lingkungan dari penggunaan pestisida sintetis (kimia) ditambah dengan dukungan pemerintah di banyak negara telah menjadi faktor utama memicu permintaan biopestisida semakin meningkat. Biopestisida adalah pestisida yang berasal dari bahan terbarukan seperti tanaman, hewan, bakteri dan beberapa mineral. Biopestisida digunakan untuk mengontrol pengaruh gulma, hama dan serangga pada tanaman di lapangan. Munculnya masalah kesehatan mengenai penggunaan pestisida sintetis telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan pasar biopestisida global.

Pengembangan produk-produk pertanian organik bagi pasar di seluruh dunia telah menyebabkan kesadaran terutama pada tingkat konsumen di negara-negara maju. Pergeseran kecenderungan penerapan produk organik telah menyebabkan pertumbuhan pasar biopestisida. Selain itu peran pemerintah di berbagai negara di seluruh dunia mempromosikan manfaat yang ditawarkan biopestisida akan lebih jauh dalam meningkatkan pertumbuhan pasar biopestisida. Namun demikian masih ada bagian yang cukup besar dari dunia yang tidak menyadari tentang manfaat yang ditawarkan biopestisida, sehingga faktor ini menjadi menghambat pasar biopestisida.

Pasar global untuk biopestisida masih relatif sangat kecil dibandingkan dengan pasar pestisida secara keseluruhan. Selain itu kekurangan profitabilitas untuk mempertahankan biopestisida di tingkat pasar. Di sisi lain, pestisida sintetis telah menguasai pasar secara keseluruhan selama beberapa dekade dan diproduksi dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan biopestisida. Jadi untuk mencapai skala ekonomi menjadi tantangan yang sulit untuk mengatasi masalah pasar biopestisida. Namun pada tingkat adopsi yang cepat dari biopestisida diharapkan dapat membantu perkembangan ekonomi dari pasar biopestisida.

Faktor-faktor menyebabkan sharing pasar biopestisida masih sangat kecil dibandingkan dengan pestisida sintetis yaitu karena faktor konsumen, promosi, manajemen, permintaan dan kelayakan usaha secara ekonomis. Berikut penjelasan secara lebih rinci mengenai faktor-faktor tersebut, yaitu: Produk biologis cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga kurang meyakinkan para konsumen.

Keterbatasan bahan baku menyebabkan produksi biopestisida belum dilakukan dalam jumlah besar sehingga dalam skala usaha industri menjadi tidak ekonomis. Daya simpan yang tidak tahan lama dan kemasannya kurang praktis dapat menghambat promosi untuk pasar biopestisida sehingga kurang meyakinkan konsumen. Cara kerjanya (efek mortalitasnya) yang lambat dan daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) menyebabkan permintaan biopestisida di pasar menjadi rendah.Skala produksi masih pada tingkat rumah tangga dan manajemen kurang dikelola dengan baik sehingga dalam skala usaha menjadi tidak layak secara ekonomis. Mari kita memanfaatkan biopestisida untuk menciptakan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.(*)

No comment for Biopestisida Dan Pertanian Berkelanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.