Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Bedah Buku Puisi Catatan Sunyi Monika Arundhati: “Gerakan Religiositas Penulis Membasuh Realitas”

Bedah Buku Puisi Catatan Sunyi Monika Arundhati: “Gerakan Religiositas Penulis Membasuh Realitas”

(986 Views) April 27, 2016 2:52 pm | Published by | No comment

 

Monika Arundhati

Monika Arundhati

Adalah Monika N. Arundhati, akrab disapa Nia Liman yang punya Buku Puisi Catatan Sunyi. Catatan Sunyi adalah karya bukunya yang pertama.  Meski sebetulnya puisi-puisinya yang bertebaran dimana-mana itu sudah beberapa kali diikutkan dalam antologi puisi bersama teman-temannya, juga antologi puisi 17 penyair perempuan Indonesia Timur: Sajak Terpagi (2010), Isis dan Musim-musim (2014).

Masih muda. Usianya 25 tahun.  Dalam “Semacam Pembukaan” di Catatan Sunyi, Monika menuliskan: “Menulis puisi bagi saya adalah sebuah ritual sakral untuk menjelma menjadi manusia seutuhnya sekaligus memperoleh kemanusiaan. Melalui ritual sakral ini, saya bisa merenungi hidup, bercakap-cakap dengannya, lantas insaf bahwa saya sejatinya adalah manusia.

Sabtu (23/4) di Lopo Utama Pelabuhan Jety Lewoleba,  Sole  Matahari Lomblen (Solmet) menggelar acara bedah buku puisi Catatan Sunyi karya Monika Arundhati Liman tersebut. Terwakili dari berbagai kalangan profesi,  ada guru, penulis sastra,  penikmat seni, wartawan, beberapa anggota DPRD dan pemerintah yang diwakili Asisten II, Gabriel Bala Warat juga siswa dari SMA Nubatukan, bedah buku menghadirkan  nara sumber Pater Stef Witin, SVD dan Ragil Supriyatno Samid alias Ragil Sukriwil, sutradara Monolog Tubuh Yang Palsu. Seperti sebuah rangkaian acara, setelah malam sebelumnya digelar pentas monolog Tubuh Yang Palsu dan Perempuan Biasa.  Abdy Keraf, Linda Koroh dari Coloteme Art Movement pun hadir dalam acara sederhana, santai, penuh keakraban dipandu Kor Sakeng.

Tentang buku Catatan Sunyi, Pater Stef Witin,SVD  mengatakan, buku catatan sunyi menjadi kristalisasi diri sang penulis. Aliran energi bathin seorang manusia dari kesunyian yang sesungguhnya penuh dengan pergolakan, pergulatan dan penggugatan eksistensi sebagai orang beriman menuju realitas: ruang dimana yang sunyi itu diteriakan yang reflektif itu diaksikan dan yang kudus suci dan sakral “diprofankan”.

pater stef

Pater Stef Tupen Witin, SVD dan Monika Arundhati

“Buku  Catatan Sunyi adalah sebuah gerakan religiositas penulis untuk “membasuh” realitas yang duniawi menjadi lebih baik, manusiawi engan medium sastra,” ujar  Witin.

Witin menilai, kumpulan puisi Catatan Sunyi merupakan karya sastra transendental, yang menghadirkan kerinduan akan Tuhan. Puisi jenis ini merupakan perlawanan terhadap arus sastra kelamin (seksualitas) yang banyak digandrungi. Dalam dunia yang serba kapitalis ini “barang dagang” (sastra) akan menjadi komoditas utama untuk memenuhi permintaan pasar (konsumen).

Kumpulan Catatan  Sunyi adalah kumpulan sajak religious karena makna dan isinya menggambarkan spiritualitas. Mengungkap lima unsur seperti kata Mangunwijaya yaitu , pengungkapan diri, interaksi dengan sesama, hidup taat asas dan aturan, bersatu dengan alam semesta dan kerinduan pada Tuhan

Pater Stef Witin juga menggugat apakah penyair  hanya berhenti pada ruang sunyi?Sebab wajah Tuhan atau kekasih yang dirindu itu sesungguhnya ada di hati,di depan mata, di sekeliling. “Penyair bergerak dari kesunyian personal, bisa jadi egoistik menuju realitas sosial, ruang sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama,” ujarnya.

“Puisi adalah nyanyian jiwa yang mengakrabkan kita dengan realitas. Pertemuan denganTuhan dalam kesunyian, mesti mengarahkan kita untuk terlibat dalam ranah sosial, ekonomi, politik dan agama. Kita mesti menemukan Tuhan disana, bukan malah menjadi manusia beriman yang tersesat bahkan buta dengan realitas sosial kemasyarakatan. Keterlibatan adalah jalan untuk menguduskan dunia yang profan.

Sementara Ragil Sukriwil mengingatkan seorang penyair memiliki tanggungjawab agar karyanya bisa sampai ke pembaca. Dengan mengisahkan pengalamannya, Ragil mengingatkan apapun caranya harus bisa dilakukan karena tanggungjawab tersebut.

Soal peran seorang seniman dalam dunia pergerakan seperti disentil salah seorang peserta diskusi, Ragil mengatakan, dunia seni termasuk sastra memiliki ruang sendiri dalam sebuah gerakan perubahan. Tidak bisa dipaksa mengikuti lebih dari yang dipunyai seniman.  “Misalnya yang mereka lakukan adalah pentas seni untuk menjaga agar api perjuangan tetap menyala,” ujar Ragil.  

Tak hanya bedah buku, acara diawali dan diakhiri baca puisi oleh penyair perempuan, Lidya Tokan juga Ragil Sukriwil dan Monika Arundhati Liman.  Seluruh peserta mengapresiasi karya perempuan Lembata ini. Kepadanya juga dititipkan harapan agar terus berkarya dan pesan yang disampaikan melalui karya-karyanya bisa sampai pada tujuan. “Kami siap belajar dari seorang penulis puisi. Karena itu mudah-mudahan Monika siap mendampingi anak-anak sekolah untuk belajar menulis sastra,” ujar guru Albertus Muda.

Jika Presiden AS ke-35, J.F, Kenedy berkata: “Kalau kekuasaan menyempitkan arena pergaulan, Puisi mengingatkan dia pada kekayaan dan keanekawarnaan dari eksistensinya. Kalau kekuasaan itu korup, puisi akan membersihkannya”, mudah-mudahan Catatan Sunyi Monika Arundhati Liman, juga karya-karya puisi lainnya dari penyair lainnya di Lembata, pun memiliki daya kritis. Proficiat! (fince bataona)

Topik:
News:

No comment for Bedah Buku Puisi Catatan Sunyi Monika Arundhati: “Gerakan Religiositas Penulis Membasuh Realitas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.