Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Bebaskan Lebih Banyak Anak Dari Kekerasan, Plan Internasional Indonesia Jadi Yayasan

Bebaskan Lebih Banyak Anak Dari Kekerasan, Plan Internasional Indonesia Jadi Yayasan

(235 Views) March 21, 2018 12:19 pm | Published by | No comment

Wabup Thomas Ola menyalami Erlina Dangu, Field Sponsorship Manager Yayasan Plan International Indonesia Program Implementasi Area Lembata, seusai memukul gong pertanda diresmikannya Yayasan Plan. (foto: ben asan)

LEMBATA, aksiterkini.com – Undang-Undang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa tingkat kedewasaan seseorang ditetapkan minimal 18 tahun. Tapi fakta yang terjadi di Indonesia saat ini, setiap jam ada 16 anak perempuan menikah sebelum berumur 18 tahun.  Fakta lain, Indonesia merupakan negara ke-7 di dunia yang menyumbangkan angka terbesar perkawinan usia anak.

Persoalan perkawinan usia anak tersebut mengemuka dalam talk show yang diselenggarakan dalam rangka peresmian Plan International Indonesia menjadi Yayasan Plan International Indonesia, di Aula St. Don Bosco, Lembata, Rabu (21/3/2018). Plan International Indonesia merupakan lembaga pemenuhan hak anak dan kesetaraan untuk anak perempuan yang telah berkarya sejak 1969 di Indonesia.

Erlina Dangu, Field Sponsorship Manager Yayasan Plan International Indonesia Program Implementasi Area Lembata, dalam sambutannya, mengatakan bahwa persoalan perkawinan usia anak seharusnya menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat. “Masih banyak orang yang belum menyadari bahwa  perkawinan usia anak juga adalah bagian dari kekerasan pada anak.”

Menurut Erlina, mereka yang menikah pada usia anak tak jarang menerima kekerasan dari pasangannya atau orang sekitar. “Kemudian yang mengalami kekerasan itu kemungkinan melakukan kekerasan lagi kepada orang lain. Ini akan menjadi siklus kekerasan yang sulit dihentikan. Perlu gerakan bersama antara masyarakat, instansi pemerintah, LSM dan anak-anak muda itu sendiri untuk memutus rantai siklus kekerasan itu,” tegas Erlina.

“Dengan bentuk yayasan, kami berharap bisa menjangkau lebih banyak anak, khususnya anak perempuan, di seluruh Indonesia, bersama pihak-pihak terkait mengatasi masalah kekerasan pada anak, khususnya anak perempuan, sehingga hak-hak anak akan terpenuhi secara maksimal,” ujar Erlina.

Yayasan Plan International Indonesia saat ini bekerja di 7 propinsi dan melaksanakan program MAJU (Mau belajar, Ambil keputusan, Jadi pemimpin, Untuk berhasil) yang merupakan representasi dari 4 pilar program Yayasan Plan International Indonesia yaitu Lead, Learn, Decide dan Thrive.

Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) merupakan organisasi independen berbasis masyarakat/komunitas yang diinisiasi sejak belasan tahun lalu oleh Plan International Indonesia yang mencoba menjawab tantangan terhadap kekerasan pada anak berbasis komunitas/masyarakat.

Organisasi kaum muda yang diinisasi oleh Plan International Indonesia, yaitu Youth Coalition Girls dan Youth Advisory Panel dan Sanggar Anak Desa Aulesa ikut memeriahkan acara talk show dan peresmian Yayasan Plan. (Foto: Ben Asan)

Acara ini juga dimeriahkan oleh organisasi kaum muda yang diinisasi oleh Plan International Indonesia, yaitu Youth Coalition Girls dan Youth Advisory Panel dan Sanggar Anak Desa Aulesa. Mereka selama ini aktif melakukan berbagai sosialisasi tentang pencegahan kekerasan pada anak yang antara lain upaya pencegahan perkawinan usia anak.

Sementara itu, Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola dalam sambutannya usai melakukan pemukulan gong sebagai tanda launching Yayasan Plan International Indonesia mengapresiasi kerja Plan dalam mendukung kerja pemerintah terutama memunculkan berbagai aksi dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak.

“Tangan pemerintah terlalu pendek. Mari terus menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk mendukung kerja pemenuhan hak anak. Di seluruh Indonesia, Hari ini Plan mengajak kita semua untuk membuat aksi untuk 1 juta anak. Tentu di Lembata tidak sampai angka itu. Dan Mari kita mulai memberi anak-anak ruang berkreasi seperti yang dtampilkan mereka hari ini.”

“Kita menyambut baik dan member apresiasi kepada Plan yang telah ikut mendukung RPJMD Pemerintah 2017-2022..”

Kepada anak-anak yang hadir dalam acara tersebut, Wabup mengajak untuk meninggalkan narkoba, miras dan perilaku Seks Pra Nikah.

“Saya yakin bahwa sebagian kami yang ada di sini dan mulai berkarir, karena di masa muda kami menahan diri dari perilaku-perilaku itu. Jauhi narkoba, hindari Seks Pra Nikah dan Minuman Keras. Tidak ada keberhasilan dimulai dari Minuman Keras dan Seks Pra Nikah.”

Acara Launching Yayasan Plan International Indonesia dimeriahkan dengan penampilan sejumlah karya kreatif anak Lembata seperti puisi, teater dan tarian.

Sanggar Ebak Take Lesa dari Desa Aulesa Ile Ape menyuguhkan Tarian Suban Bala, sebuah tarian daerah yang menampilkan tenun ikat asli Lembata yang menggunakan bahan alami untuk pewarna dan benang dalam kegiatan tenun ikat.

Dismas, salah satu peserta tarian mengatakan mereka menampilkan tarian tentang tenun ikat untuk mengajak anak muda Lembata untuk mencintai, bangga dan melestarikan Tenun Ikat Lembata yang menggunakan bahan alami.

“Jangan mau yang instan Produk local kita butuh proses dan berkualitas. Anak muda Lembata harus bisa mendukung ini,” tandas Dismas.

Selain tarian, sanggar tersebut juga menampilkan sebuah teater berjudul Kids Jaman Now. Teater ini menceritakan tentang pergaulan berisiko yang dialami anak muda saat ini yang dimulai dari perilaku berisiko mengkonsumsi minuman keras. Perilaku ini menjadi jembatan untuk masuk ke perilaku berisiko lain seperti seks pra nikah dan penggunaan narkoba.(*/fre)

No comment for Bebaskan Lebih Banyak Anak Dari Kekerasan, Plan Internasional Indonesia Jadi Yayasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.