Menu Click to open Menus
Home » EKBIS » Aspirasi Rp 74 M Biang Defisit, Manuk : Lembata Sudah Tiga Kali Defisit APBD

Aspirasi Rp 74 M Biang Defisit, Manuk : Lembata Sudah Tiga Kali Defisit APBD

(1168 Views) March 9, 2017 4:18 am | Published by | 1 Comment

Suasana jumpa pers soal SILPA APBD Lembata Tahun Anggaran 2017. Tampak Penjabat Bupati Lembata, Sinun Petrus Manuk memimpin jumpa pers didampingi Ketua TAPD, Petrus Toda Atawolo. (Foto: Yosy Kares)

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Akhirnya, terkuak juga biang kerok yang menyebabkan defisit APBD II Kabupaten Lembata Tahun Anggaran 2017. Selain permintaan tambahan anggaran dari SKPD, penyebab terbesar karena adanya aspirasi DPRD untuk menganggarkan kembali pekerjaan senilai Rp 74 miliar.

Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Drs. Petrus Toda Atawolo, MSi menjelaskan bahwa Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Tahun Anggaran 2017 ditetapkan sebesar Rp 99 miliar. SILPA sebesar ini merupakan akumulasi dari aspirasi sebanyak Rp 74 miliar lebih dan  permintaan tambahan anggaran dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) senilai Rp 21 miliar lebih. SKPD yang minta tambahan dana itu adalah Dinas PPO sebesar Rp 3,3 M, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan KB (Rp 1 M), RSUD (Rp 5 M), Dinas Pertanian (Rp 1 M), Pembiayaan Bidan PTT (Rp 5,2 M), dan jaringan listrik (Rp 3,2 M).

“Jika saja Rp 74 miliar itu tidak dianggarkan kembali, tentu tidak ada masalah seperti ini. Tapi karena ini merupakan aspirasi maka membuat tambahan anggaran,” ucap Sekda Lembata ini, dalam jumpa pers yang dipandu Penjabat Bupati Lembata, Drs. Sinun Petrus Manuk di Lewoleba, Rabu (8/3/2017).

Dia menjelaskan bahwa SILPA murni yang didapat saat tutup buku per tanggal 31 Desember 2016 adalah sebesar  Rp 48 M. Akan tetapi, angka tersebut sudah jelas peruntukkannya seperti membiayai dana kapitalisasi di Dinas Kesehatan, tunjangan guru, hak-hak kontraktor dan pihak ketiga yang belum terbayar tahun 2016, dan sertifikasi.

“Setelah dilakukan perhitungan, dari SILPA Rp 48 miliar itu, kita masih miliki sisa lebih sebesar Rp 13 miliar namun defisit kita sebesar Rp 99 miliar, karenanya kita bangun komunikasi untuk dilakukan penjadwalan ulang untuk merencanakan kembali Rp 85 miliar lebih sisa defisit. Ini mérupakan kesepakatan bersama legislatif,” ungkap Atawolo.

Dia mengakui bahwa aspirasi Dewan sebesar Rp 74 M masih diproyeksikan untuk dibiayai dari SILPA. Ya, “Dana Rp 74 miliar yang gantung. Namun ini dana aspirasi yang sudah masuk dalam tubuh APBD. Jadi tetap ada,” katanya.

Menurut dia, di tahun 2017 ini, DPRD minta agar anggaran Rp 74 miliar ini  masuk lagi untuk dianggarkan. “Harusnya bisa masuk dàlam DAU murni yang dipakai, namun kami biarkan masuk dalam SILPA yang diproyeksi,” jelas Atawolo.

Dia menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dimungkinkan dalam regulasi. “Ya, defisit APBD itu dimungkinkan oleh regulasi, agar ada tahap untuk penyesuaian dalam perubahan anggaran.”

Atawolo menuturkan bahwa defisit APBD ini direncanakan karena belanja daerah lebih besar daripada pendapatan daerah. “Nah ini yang kita defisit. Pekerjaan proyek jalan di tahun 2016, dengan anggaran yang besar namun tidak beres. Ini salah satu item defisitnya APBD kita,” jelas Atawolo.

Dikatakan, pemerintah sudah surati DPRD untuk melakukan rapat pembahasan penjadwalan ulang APBD 2017. Akan tetapi, anggota DPRD masih melakukan Bimtek. “Edaran telah dibagikan ke semua SKPD terkait rencana pemotongan dan rasionalisasi anggaran, diantaranya pengurangan tambahan penghasilan PNS, pengurangan anggaran makan minum, tenaga KSO dan TKD, rasionalisasi perjalanan dinas, kurangi belanja modal Rp 39 miliar di Dinas PU Lembata,” tegas Atawolo.

Penjabat Bupati Lembata, Drs. Sinun Petrus Manuk, ketika membuka jumpa pers mengatakan bahwa, bukan terjadi pada tahun 2017 saja Lembata mengalami defisit APBD.

“Lembata yang sudah berusia 18 tahun ini, sudah mengalami 3 (tiga) kali defisit dana, yakni di masa jabatan Pak Andreas Duli Manuk tahun anggaran 2003, masa Jabatan Pak Yentji Sunur tahun anggaran 2013, dan tahun 2017 ini,” tegas Manuk.

Jumpa pers yang dipimpin Sinun Petrus Manuk itu dihadiri oleh ketiga asisten Sekda serta Kepala Inspektorat, Kepala BKD dan Kepala Bappeda.

Dikatakan, ketika dilantik menjadi Penjabat dan mulai bekerja, tugas pertama yang dilakukan adalah membuka sumbatan yang menjadi hambatan selama ini antara pemerintah dan legislatif.  “Hasilnya, komunikasi kita cair sehingga meskipun menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang terlambàt menyerahkan dokumen audit ke BPK hingga Februari, namun kita juga mesti berbangga karena kita tepat waktu dalam penetapan APBD,” ungkap Piter Manuk.

Menurut dia, penetàpan APBD melalui proses panjang meski ada deficit. Dia berusaha menemukan solusi, walau dalam proses ini pihaknya mendapat hujatan dan caci maki. “Tapi saya anggap mereka tengah tersesat,” ujarnya. (yosi kares/freddy wahon)

Topik:
News:

1 Comment for Aspirasi Rp 74 M Biang Defisit, Manuk : Lembata Sudah Tiga Kali Defisit APBD

  • NN says:

    untuk tenaga KSO, memang cukuo mendapat sorotan, karena jumlah yang fantastis sementara kinerja tidak maksimal. saat Jumpa pers, Sektda malah membanggakan kerja KSO untuk antar antar surat, dan menghujat ASN yang gayanya sok pejabat “main perintah”
    sedikit koreksi, tdk ada pengurangan kso, hanya ada pemberhentian penerimaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.