Menu Click to open Menus
Home » POLKAM » Arwahpun Ikut Saksikan Laporan Pansus DPRD Lembata

Arwahpun Ikut Saksikan Laporan Pansus DPRD Lembata

(2115 Views) April 27, 2016 4:24 pm | Published by | 4 Comments
DSC_2321

Suasana sidang Paripurna pembacaan Laporan Pansus dugaan ijazah palsu Bupati Eliaser Yentji Sunur, ST

LEWOLEBA, aksiterkini.com — Ini benar-benar aneh. Saat sidang paripurna penyampaian laporan Pansus DPRD Lembata tentang dugaan ijazah palsu Bupati Eliaser Yentji Sunur, staf Sekretariat DPRD, Irma, kerasukan arwah almarhum Lambertus Bruno Demon, mantan anggota DPRD Lembata. Ia ngotot hendak masuk ke ruang sidang mengikuti laporan Pansus.

“Saya mau ikut sidang. Mereka sudah membunuh saya. Biar saya ikut sidang, saya mau lihat,” ujar Irma yang sedang kerasukan, sesaat sebelum sidang dibuka Ketua DPRD Lembata, Ferdinandus Koda, SE, Selasa (26/4) lalu.

Yang menarik, Irma yang hanya bisa berbahasa daerah Kedang, ketika itu, berbicara dalam bahasa Lewokukung dengan dialeg yang fasih. Staf Sekwan yang bisa berbahasa Lewokukung berdialog dengannya. Dia mengaku sudah lebih dulu mampir di kantor bupati di Batas Kota, sebelum datang ke gedung Peten Ina.

Anggota Dewan, Kondradus berbincang dengannya dalam bahasa Lewokukung. Arwah Bruno mengaku nyawanya “dihabisi” lantaran meminum air mineral yang disediakan oleh Sekretariat Dewan. “Kalian harus hati-hati. Kalian tidak satu hati dalam membahas masalah ini (laporan Pansus-Red),” ucapnya.

Staf Sekwan berusaha meminta bantuan Rm Yermin Rianghepat, Pr dan Rm Noldi, Pr untuk mengeluarkan roh Lambert Bruno Demon dari tubuh Irma. Tapi, roh Bruno bersikeras tak mau pulang. “Saya mau ikut sidang,” tandasnya.

Hingga usai pembacaan laporan Pansus, roh Bruno Demon tetap merasuki Irma. Sebelum rapat paripurna pengambilan keputusan DPRD atas laporan Pansus, Stanislaus Langobelen menemui Irma yang sedang kerasukan di ruang kerja bendahara barang Setwan. “Apa benar ini dengan Lambert,” tanya Stanis.

Irma mengangguk dan menjawab, “Iya”. Keduanya berjabatan tangan dan sama-sama meneteskan air mata. Maklum, Stanis adalah anggota Dewan antar waktu menggantikan posisi Lambert Bruno Demon.

Keduanya berbincang akrab. Berkali-kali arwah Bruno menasehati Stanis agar berhati-hati. “Ada pesan yang disampaikan dan hanya untuk saya saja,” kata dia, sembari memperlihatkan kecemasannya.

Arwah Bruno bahkan sudah menyampaikan hal-hal yang akan terjadi dalam sidang pengambilan keputasan Dewan tersebut. Sampai Dewan memutuskan penggunakan hak angket, arwah Bruno masih juga belum meninggalkan tubuh Irma. Akhirnya, Irman dijemput orang tuanya untuk kembali ke rumah.

Staf Setwan menuturkan, Irma sering mengalami kerasukan. “Ada orang mati di tetangga saja, dia kena seperti itu. Dia sangat peka dengan roh-roh orang mati,” ujar Anwar, staf Setwan. (fre)

 

Topik:
News:

4 Comments for Arwahpun Ikut Saksikan Laporan Pansus DPRD Lembata

  • Kor. Sakeng says:

    Itulah keunikan yang terjadi di Lembata. Betapa tidak, kehidupan masyarakat Lembata yang masih memegang teguh adat budaya berikut relasi berkesinambungan dengan para leluhur. Masuknya roh org yang sudah mati dalam raga manusia yang secara umum disebut kerasukan, tetapi bagi orang Lembata menyebutnya dengan nama Bloding. Kerasukan dan Bloding sesungguhnya memliki pola yang sama tetapi bagi saya yang membedakannya adalah Kerasukan itu ditengarai oleh roh jahat (setan/suanggi) sementara Bloding (versi masyarakat Lembata)adalah ditengarai oleh roh orang yg sudah meninggal atau roh leluhur. Tak pernah dipungkiri bahwa untuk orang yang sudah meninggal, pasti rohnya akan masuk pada seseorang (keluarga/bukan keluarga)untuk menyampaikan sebab musabab meninggalnya apakah terkait dengan persoalan2 masa lalu atau persoalan2 kriminal pembunuhan. Beberapa contoh yang bisa diangkat ke permukaan yang dapat membantu proses penyidikan adalah kasus kematian Stefen Manuk (diskenariokan dengan kecelakaan lalin), kasus kematian Yoakim Langodai dan Lorens Wadu. Awal terkuaknya kasus-kasus ini yg telah terskenario sebagai kematian wajar, justeru terkuak oleh intervensi roh itu sendiri yang memberi petunjuk. Secara nalar sehat dan ilmiah memang tidak bisa dipercaya tetapi jika memahami dari perspektif budaya, maka itu sesuatu yang mungkin.Kematian-kematian biasa pun pasti ada korelasi dengan persoalan-persoalan masa lalu (tidak terbatas rentang waktu). Dan karena itu, bloding adalah sebuah cara bagi roh orang yang sudah meninggal (leluhur) untuk menyampaikan sebab persoalan kematiannya berikut petunjuk untuk penyelesaian persoal dan skaligus sbagai warning bagi yang masih hidup.

  • Yohanes Lagadoni Irfand Gromang says:

    Sangat sangat mmprihatinkan lembata saat ini. Sungguh disayang para pemerintah yg kmudian trus mnerus mmbuat ssuatu hal yg tak trlepas dri kesengsraan rakyat efekx.
    Dgn hadirx org yg suda mninggal dlm tubuh org yg masih hidup mnndakan bhwa itulah budaya kita budaya lamaholot umumx, boleh di percaya boleh juga tdak, tpi ada kbenaranx juga klau di lihat mlalui perspektif budaya kita. Hax syg tak ada aturan prrundang2 an yg mngatur ttg itu. Oleh krena itu perlu di terima dn ditelusuri scara perlahan, shingga bisa tmukan yg sbnarx yg bisa diatur scara hukum. Berhati2 lah. Lakukan yg trbaik untuk lewotana ini. Krna ssungguhx nenek moyang kita, para leluhur kita tdak akn mnutup mata untk tanah trcinta ini. Salam

  • Hukum karma akan berlaku ” MEI NAWA ” akan tetap menhantui bagi semua pekalu pembunuhan sampai ke anak dan cucunya, jika mereka menyangkal semua perbuatannya. Sebagi putra daerah walaupun berada di tanah orang sangat prihatin dengan peristiwa ini. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *