Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Phobia Kaum Perempuan Lembata

Phobia Kaum Perempuan Lembata

(579 Views) April 25, 2017 3:51 pm | Published by | 1 Comment

Oleh: Nethal Kedaman

Mengenang kembali sosok R.A. Kartini pada 21 April 2017 sebagai salah satu sosok wanita pejuang emansipasi kaum perempuan Indonesia, akan menjadi pertanyaan kontemplatif bagi setiap kalangan tanpa membedakan faktor kelamin, agama maupun budaya. Apalagi di tengah kemajuan zaman yang semakin pesat ini, perempuan tidak lagi dianggap sebagai kaum lemah yang diremehkan dalam setiap aspek kehidupan.

Beberapa tokoh penting Indonesia saat ini, seperti Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI dan Megawati Soekarno Putri, mantan Presiden RI ke-5 telah menorehkan perhatian kaum perempuan Indonesia bahwasannya, perempuan memiliki potensi yang setara dengan kaum laki-laki. Kesetaraan inilah hendaknya diintegritaskan dalam sekat budaya yang didominasi oleh budaya patriarkhi untuk peradaban bangsa yang lebih tinggi. Maka, harapan besar inilah hendakya diimplementasikan ke setiap pelosok negeri ini termasuk Lembata yang memegang paham patriarkhi, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur. Harapan inilah sebagai suatu refleksi singkat penulis tentang tulisan “Habislah Gelap,Terbitlah Terang” oleh R.A. Kartini.

 

Budaya Patrilianisme di Tengah Masyarakat Lembata          

Titus Febrianto Adi Nugroho (2011:37) mendefinisikan patriarki secara literal sebagai “atur-an ayah”. Sedangkan budaya patriarki dapat disimpulkan sebagai konsep yang digunakan untuk menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan yang berlangsung di bidang kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Definisi Nugroho seolah-olah melegitimasi kedudukan laki-laki patriakh mengsubordinasikan kodrat perempuan meskipun gema gender telah dimulai era Kartini. Berbagai stereotipe produk partiarki mendapat posisi atas bagi kaum Adam Lamaholot Lembata menjamah perempuan sebagai kaum yang lemah. Alih-alih memiliki gading sebagai belis, kaum lelaki selalu merasa benar dan memiliki perempuan. Kekerasan fisik dalam rumah tangga sering dilakoni bapak-bapak yang merasa benar dan memiliki kedudukan secara abslout setelah meminang seorang perempuan dengan gading, sedangkan martabat seorang istri sebagai kaum Hawa disepelekan. Persepsi masyarakat adat Lembata, perempuan memiliki suku ekan tersendiri, baik sebelum dan sesudah dipinang oleh pria dari suku lain menjadikan kaum pria seringkali melakukan tindakan kriminal terhadap perempuan.

Budaya patriakhi pun menjadi otoritas mutlak dalam sebuah keluarga yang terdiri dari anak lelaki dan perempuan. Harta warisan semisalnya tanah, rumah peninggalan orang tua dan hewan peliharan keluarga menjadi milik anak lelaki dengan paradoks anak perempuan akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh sang suami, kelak atau pun sedang terjadi.

Di sisi lain, perempuan Lamaholot Lembata masih didiskriminasi dari dunia pendidikan formal dengan paradigma kolot: tugas perempuan adalah di dapur, sumur, dan kasur, sehingga tidak layak menempuh pendidikan formal setinggi mungkin, bahkan tidak diberi kesempatan menikmati dunia sekolah. Oleh karenanya anak perempuan mendapatkan pendidikan informal dari ibu sebagai bekal hidup dengan belajar menenun sarung. Sedangkan anak laki-laki selalu mendapat perhatian khusus sebagai penerus generasi ayahnya kelak. Karena itu, dalam rumah tangga, pendidikan bagi anak laki-laki sangat intens diperhatikan oleh orang tua.

Mirisnya bahwa budaya dari garis keturunan bapak ini layaknya men-tuhan-kan kaum lelaki Lembata yang menghalalkan seluruh kebijakan dan wewenang laki-laki dalam keluarga – dantindakan kriminalitas yang dapat merenggut nyawa, baik terhadap anak lelaki itu sendiri maupun anak perempuan.  Urusan asmara yang harusnya menjadi konsumsi setiap individu ternyata masih menjadi phobiaanak perempuan terhadap ayahnya, bahkan kepada saudaranya sebagai pewaris patriarkhi di tengah zaman demokrasiini di mana hak asasi manusia dengan gencarnya diperjuangkan.

Laki-laki Lamaholot Lembata memegang teguh pepatah “di ujung rotan ada emas”mengintimidasi anggota keluarga yang lain khususnya anak perempuan dengan dalil pembinaan sikap. Karenanya, cara apapun termasuk kekerasan fisik untuk membina pola perilaku anak perempuan yang lebih baik. Dampaknya, kaum perempuan merasa terkukung atas harapan hidup liberalis berujung maut. Bunuh diri adalah jalan terakhir baginya, ketika tangan besi pemegang otoritas partiarkhi sering mendarat di sekujur tubuhnya seperti peristiwa yang dialami adik Yustina Gelu, di mana menunjukan betapa kentalnya budaya partiarki di tengah masyarakat Lembata. Kematiannya menjadi angin buruk bahwa tidak semua wewenang partiarkhi harus mengabaikan martabat kaum perempuan. Semestinya, anak seusia Yustina Gelu mendapatkan didikan penuh kasih sayang dari keluarga tanpa harus dengan kekerasan yang sungguh brutal (baca : http://balinewsnetwork.com).

Manusia Beriman dan Menghormati HAM

Sebagai makhluk Tuhan yang beriman, kisah penciptaan manusia dalam salah satu bible agama Wahyu yakni Nazrani, wanita diciptakan dari tulang rusuk pria menginspirasi manusia, pria dan wanita – keduanya senantiasa saling membutuhkan, memiliki derajat yang sama di mata Sang Pencipta sehingga sudah harus peran lelaki menjaga dan merawat hidup wanita, begitupun sebaliknya tanpa adanya stigma terhadap satu sama lain.

Hak dan kedudukaan  manusia selaku warga negara – sama di bumi pertiwi ini. Secara gamblang, UUD 1945 pasal 28 ayat A sampai J, mengatur tentang segala bentuk Hak Asasi Manusia. Setiap individu memiliki hak hidup yang aman, damai, dan tentram serta dilindungi oleh negara. Dengan demikian, suatu konflik horizontal dalam ruang lingkup keluarga maupun masyarakat harus melalui musyawarah menuju suatu konsensus demi menghindari tingkat kematian dengan cara tragis

Sangat disayangkan jika hari ini, budaya partiarkhi masih menjadi phobia kaum perempuan dalam melakoni gender yang telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini. Perempuan hanya ingin memperjuangkan hak-hak yang layak dihargai di tengah budaya yang membelenggunya bukan mengubah struktur budaya patrilineal. Oleh karena itu, pemerintah, LSM yang menangani hak – hak kaum perempuan, lembaga pendidikan formal dan nonformal serta informal yang memiliki kepedulian terhadap HAM, terus memberikan sosialisasi terhadap masyarakat akan pentingnya emansipasi perempuan. Pendekatan persuatif personalistis maupun komunalpun terus direalisasikan sebagai penghayatan kita terhadap perjuangan R.A. Kartini. Dan yang paling penting adalah setiap manusia memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang sama seperti yang tercantum dalam UUD 1945. Semakin banyak masyarakat Lembata yang menempuh pendidikan tanpa memilah milih, laki-laki atau perempuan, maka sekat budaya tersebut akan dipahami secara lebih baik dan suatu kemajuan besar terhadap sumber daya manusia akan tercapai demi kemajuan daerah, dalam hal ini Lembata tercinta. (*)

Penulis: Putra Lembata, Mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang

Topik:
News:

1 Comment for Phobia Kaum Perempuan Lembata

  • Beatrix T says:

    Semoga saja langkah kecil yang sedang saya jalani, sedikit merombak cara berpikir dan bertindak di tanah tercinta Lembata. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.